Hadits Nabi

"Barang Siapa Menunjukan Kepada Kebenaran Maka Baginya Pahala Seperti Pahala Pelakunya, Tanpa Mengurangi Pahala Sedikitpun Darinya."

Rabu, 02 November 2016

ETIKA DALAM BERDZIKIR


Sesungguhnya dalam berdzikir dan berdoa terdapat etika, adab syar’i yang mesti dilakukan, juga syarat-syarat yang diwajibkan. Tentu saja jika adab dan syarat tersebut dijaga maka doa dan dzikir kita akan memberi dampak tercapainya harapan  yang dipinta. Namun barang siapa tidak menghiraukan etika-etika tersebut maka ia patut mendapatkan tiga perkara; kemarahan Allah, dijauhkan dariNya dan tidak terkabulnya harapan atau doa. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal ini.

Disini kami akan menyebutkan adab-adab berdoa dan berdzikir serta syarat-syaratnya:

       1. Mengetahui riwayat dan kebiasaan para Nabi, para Rosul, serta orang-orang shalih ketika hendak meminta agar kebutuhannya terpenuhi oleh Rabbnya. Yaitu mereka bersegera berdiri dihadapan Rabbnya. Mereka membariskan kaki dalam shalat, kemudian mengangkat kedua telapak tangannya, mengalirkan air mata, memulai dengan bertaubat, serta meninggalkan penyimpangan mereka dengan memendam kekhusyu’an dalam hati mereka, sambil penuh rendah diri dan pasrah.
Dilanjutkan mereka menyanjung Rabbnya, mensucikanNya, mengagungkanNya, serta memujiNya. Setelah itu mereka mulai berdo’a dan memohon apa yang mereka kehendaki.
Kisah Nabi Ibrahim ketika akan berdo’a pada QS. Asy Syu’ara’:78-82, beliau menyanjung Rabbnyadengan lima kali sanjungan. Setelah itu Nabi Ibrahim memohon lima kebutuhan QS.Asy Syu’ara’: 83-87. Maka Allah memenuhi kebutuhan beliau kecuali satu perkara (permohonan ampun pada ayahnya).

2.       Hendaknya berdoa dengan penuh keikhlasan, sangat berharap kepada Allah untuk mengabulkan doanya, takut akan adzabNya, menundukan diri dan dengan kekhusyu’an. (QS. Al Anbiya’: 90)

3.       Memohon dengan penuh kepastian dan tidak ragu sedikitpun. Nabi bersabda: “Janganlah orang yang berdo’a mengatakan; ‘Ya Allah, rahmatilah saya jika Engkau menghendaki.’ Akan tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena Allah tidak ada yang memaksaNya.”(HR. Bukhari, no.6339 dan Muslim, no.2679)

4.       Hendaknya memperkuat harapannya kepada Allah yang Maha Mulia. Jangan sampai berputus asa terhadap rahmatNya. Bersabar dan tidak terburu-buru ingin segera di kabulkan. Nabi bersabda: “Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, ‘saya telah berdoa, namun tidak juga dikabulkan untukku.”

5.       Hendaknya meminta kebaikan untuk kaum mukminin. “Dan mohonlah ampun bagi dosamu dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

6.       Memulai dengan mentauhidkan Allah. Doa Nabi Yunus (QS. Al Anbiya’:87-88)

7.       Mengucapkan doanya secara rahasia dan tersembunyi. Sehingga tidak didengar selain Allah. “Berdoalah pada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS.Al A’raf:55)

8.       Menguatkan rasa rendah diri dan ketundukan. Menghindari kesombongan dan keangkuhan. (QS. Yusuf: 67)

9.       Dalam kondisi yang paling sempurna. Menghadap kiblat, menunduk, khusyu’ dan sangat merendahkan diri dihadapanNya. (Qs. Ali Imran: 190-191)

10.   Berdoa terus menerus atau mengulang ulangnya.

11.   Mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Dari Abu Musa Al asy’ari dia berkata: “Nabi meminta air dan beliau pun berwudhu dengan air itu. Kemudian beliau tengadahkan kedua tangan nya dan berdoa….” (-Potongan hadits- HR. Al Bukhari, no.4323 dan Muslim, no.2498)

12.   Berdoa dan berdzikir di tempat yang tenang dan bersih (suci). Abu Maisarah berkata, “Dzikir kepada Allah tidak dilakukan kecuali di tempat yang baik.”

13.   Mulutnya bersih (tidak berbau).

14.   Keadaan yang dilarang berdoa dan berdzikir. Ketika sedang buang hajat, saat bersetubuh dengan isterinya, saat khotib sedang berkhutbah, saat mengerjakan shalat.

15.   Mendahulukan menjawab salam saudaranya seiman, menjawab atau mendoakan saudaranya ketika bersin, dan kemudian kembali berdzikir.
                                            
Allahu ta’ala a’lam bish shawab.

Diringkas dari buku Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad hal.48-69, Penerbit Sukses Publising.
Surakarta, 29 Oktober 2016

Di postkan AbdulWahid.com

Postingan Terkait: 

30 MANFAAT BERDZIKIR


Sudah menjadi keharusan setiap umat beragama untuk mengingat tuhannya, menyebut namaNya dalam do’a-do’a maupun menyebutNya dalam segala bentuk perbuatan. Umat Islam diajarkan untuk selalu mengingat Allah setiap saat, ketika mata kita terbuka di waktu subuh atau sebelumnya Rosulullah mengajarkan untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat tidur dan nikmat bangun dari tidur yang tidak semua orang bisa merasakannya contohnya saudara-saudara kita yang sedang didzalimi di belahan dunia lain semisal Palestina, Suriah, Myanmar dll (semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan menyelesaikan permasalahan mereka). Hingga hal yang kecil Rosulullah juga menuntun umatnya untuk mengingat Allah, ketika akan masuk dan keluar dari kamar mandi atau tempat buang hajat.
Allah subhanahu wa ta’ala memotifasi umat Nya untuk selalu berdzikir dengan memberikan banyak keutamaan dan manfaat bagi pelakunya, diantaranya Allah jamin ketenangan hati pelakunya dan Allah selalu mengingat hambaNya selama hamba mengingatNya dan lain sebagainya yang insyaAllah akan kami sebutkan 30 faidah dzikir dibawah ini.

Allah ta’ala berfirman: “Maka ingatlah Aku niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS.Al Baqarah: 152)

Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin Zakariya agar diamalkannya. Kemudian Yahya memerintahkan Bani Israil supaya mengamalkan lima kalimat itu.”

Kemudian diantara perintah itu adalah:

“Dan saya memerintahkan kalian untuk selalu berdzikir kepada Allah. Sesungguhnya perumpaan dzikir seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, hinggaketika tiba di benteng yang kokoh, dia menjaga dirinya dari musuh-musuh itu. Demikian setiap hamba, dia tidak bisa menjaga dirinya dari setankecuali dengan berdzikir kepada Allah.” (HR. Ahmad 4/202 dan At Tirmidzi, no. 2872)

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya ‘Al Waabil Ash Shayyib’ menyebutkan bahwa dzikir memiliki faidah yang banyak diantaranya:
  1.   Dzikir dapat mengusir setan, membinasakan dan membuatnya lemah.
  2. Dzikir membuat Allah yang maha pengasih menjadi ridha kepada hambanya.
  3. .Menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dalam hati, sebaliknya ia justru mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan dan ketenangan bagi hati.
  4. Dapat memperkuat hati dan badan.
  5. Menerangi wajah dan hati.
  6. . Mendatangkan rizeki.
  7. Memberikan martabat, keindahan, dan kesehatan bagi orang yang selalu menjalankannya.
  8.  Mendatangkan rasa cinta yang merupakan ruh islam. Merupakan poros agama ini. Dan inti kebahagiaan serta keselamatan.
  9.  Mendatangkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah dimanapun dan kapanpun) pada hamba.
  10.  Menjadikan orang yang melakukannya dengan istiqomah selalu kembali dan bertaubat kepada Allah.
  11.  Semakin dekat kepada Allah. Maka sesuai kadar dzikirnya kepada Allah, kedekatan itu ia dapatkan. Dan sesuai kadar kelalaiannya dari dzikir, ia menjadi jauh dari Allah.
  12.  Membuka pintu makrifat (pengetahuan tentang Allah yang menjadikan hamba semakin takut dan berhati-hati dalam menjalankan kehidupan ini) dan semakin memperbanyak dzikir maka semakin bertambah pula makrifatnya.
  13. Menjadikan pelakunya semakin takut kepada Allah. Karena penguasaan Allah terhadap hatinya sudah sangat besar. Berbeda dengan orang yang lalai maka rasa takut kepada Allah sangat tipis dalam hatinya.
  14.   Dzikir menjadikan Allah selalu mengingat orang yang selalu berdzikir kepadaNya.
  15.  Mendatangkan kehidupan bagi hati. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Bayangkan bagaimana kondisi ikan itu jika meninggalkan air ?.”
  16.   Dzikir adalah makanan hati.
  17.   Menjadikan hati cemerlang dan bersih dari karat-karatnya. Hati menjadi berkarat karena dua hal, kelalaian dan dosa.
  18.  Menghapus dan menghilangkan dosa-dosa. Karena dzikir merupakan kebaikan yang paling besar. Sementara kebaikan itu bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan.
  19.  Menghilangkan jarak anatara hamba dengan Rabbnya.  Sesungguhnya takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang diucapkan seorang hamba akan selalu di ingat Allah saat menghadapi malapetaka.
  20.   Jika hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir disaat lapang, maka Allah akan mengenalnya pada saat penderitaan.
  21.   Dzikir menyelamatkan dari siksa Allah.
  22.    Penyebab turunnya sakinah (ketenangan), hamba terliputi oleh rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat.
  23. Sabda Nabi: “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah kecuali ia akan dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, ketenangan turun kepada mereka, dan mereka disebut-sebut oleh Allah diantara makhluk yang ada disisiNya (Malaikat).” (HR. Muslim, no.2700)
  24.  Menjauhkan lisan dari menggibah (menggunjing), mengadu domba, berdusta, serta mengucapkan kata-kata kotor dan bathil.
  25.    Majlis dzikir adalah majlis para Malaikat,. Sementara mejelis yang penuh kelalaian adalah majelis para setan.
  26.    Mendatangkan kebahagiaan pada dirinya dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti inilah yang di berkahi di manapun ia berada.
  27.   Membuat hamba aman sejahteradari kerugian pada hari kiamat. Dan setiap majelis yang di situ hamba tidak berdzikir kepada Allah, maka ia akan mendapat kebinasaan dan kerugian pada hari kiamat.
  28.   Dzikir yang diiringi tangis dalam kondisi sendirian dan tanpa diketahui manusia, menjadi sebab datangnya naungan Allah terhadap hamba pada hari mahsyar. Hamba akan mendapat naungan dibawah ‘ArsNya, sementara orang yang lain berada di bawah terik matahari.
  29.   Menyibukan diri dengan dzikir menyebabkan datangnya pemberian Allah yang paling afdhal terhadap hamba, dibandingkan yang biasa diperoleh orang-orang yang sering berdo’a.
  30.   Ibadah yang paling mudah. Tapi menjadi ibadah yang paling nikmat dan paling afdhal. Karena gerakan lisan merupakan gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah.
Demikian 30 faidhah berdzikir kepada Allah yang kami rangkum dari buku syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad terbitan Sukses publishing, semoga bermanfaat dan dapat menyemangati kita untuk selalu menggerakkan lisan untuk menyebut Allah, mengagunggkanNya, menyucikanNya, menyanjungNya setiap saat.
Semoga dengan memperbanyak dzikir, semakin banyak pula faidhah yang kita dapat terutama ridha Allah ta’ala.
اللهم اعنّا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك
“Ya Allah tolong bantu kami untuk selalu berdzikir kepadamu, mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baik ibadah.”
Allahu a’lam bish shawab

Surakarta, 29 Oktober 2016

Dipostkan oleh: AbdulWahid.com

PENYIMPANGAN AKIDAH DAN CARA MENANGGULANGINYA.


Penyimpangan dan perpecahan dari akidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena akidah yang benar merupakan motifator utama bagi amal yang bermanfaat.

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh akidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekalipun mereka bergelimang harta materi tapi terkadang hal itu malah menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan pengarahan dalam penggunaannya, dan tidak ada pengarahan yang benar kecuali akidah yang benar pula.

“Wahai para Rosul , makanlah dari makanan yang baik –baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (Al-Mukminun: 51)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,’ dan telah kami lunakan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (Saba’:10-11)

Maka kekuatan akidah tidak bisa lepas dari kekuatan materi. Jika hal itu terjadi dengan menyeleweng kepada akidah yang sesat/bathil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di Negara-negara kafir yang mempunyai materi namun tidak mempunyai akidah yang benar.

Ada beberapa sebab penyimpangan akidah shahihah yang harus kita ketahui:

1.      1. Kejahilan atau kebodohan terhadap akidah yang benar, karena adanya keengganan dalam mempelajari dan mengajarkanya, atau kurangnya perhatian terhadap nya, sehingga tumbuhlah generasi yang tidak mengenal akidah yang benar mapun sebaliknya.
Umar bin Khattab berkata: “Sesungguhnya ikatan simpul islam akan pudar satu persatu, manakala didalam islam terdapat orang (generasi) yang tidak mengenal kejahiliyahan.”

1.     2.  Fanatik pada suatu ajaran yang diwariskan nenek moyangnya, sekalipun hal itu salah, dan tidak memperdulikannya bahwa hal itu salah.

“Dan apabila dikatakan pada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab,’(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk ?.” (Al Baqarah: 170)

3.  Taqlid buta, mengambil pendapat manusia tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki kebenarannya. Seperti yang dilakukan golongan Mu’tazilah, Jahmiyah dll.

4.  Berlebihan dalam mencintai wali dan orang-orang shalih, dan meletakkan mereka pada ketinggian derajat yang tidak semestinya. Seperti menganggap mereka bisa mendatangkan manfaat dan menolak madharat, menjadikan mereka perantara antara Allah dan makhlukNya, hingga ke taraf penyembahan para wali dan meninggalkan penyembahan kepada Allah. Sebagaimana telah terjadi pada kaum nabi Nuh terhadap orang-orang shalih (pada zaman itu) ketika mereka berkata,
“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq dan Nasr.” (Nuh:23)

*Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama berhala-berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum nabi Nuh, yang semula nama-nama orang shalih.

5. Lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah, terbuai dengan teknologi-teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mereka mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata. 
Sebagaimana kesombongan Qorun yang mengatakan, 
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al Qashash: 78) 
Atau ucapan kesombongan yang lain:
 “Ini adalah hakku...” (Fushilat: 50)
 “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” (Az Zumar: 49)
 Mereka tidak berfikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan demi kepentingan manusia.

6-    Kosongnya keluarga dari pengarahan yang benar (menurut islam).
Rosulullah bersabda: “Setiap bayi iu dilahirkan atas dasar fitrah (islam). Maka kedua orangtuanya yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al Bukhari)

7-    Media pendidikan dan informasi enggan melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan yang tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata.

CARA-CARA MENANGGULANGI PENYIMPANGAN INI:

1.  Kembali kepada kitabullah dan sunnah Rosulullah untuk mrngambil akidah shahihah.

2.  Memberi perhatian pada pengajaran akidah shahihah, akidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.

3. Menetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Menjauhkan kitab-kitab kelompok penyeleweng atau sesat.

4. Menyebar para dai yang meluruskan akidah umat islam dengan mengajarkan akidah salaf serta menjawab dan menolak akidah bathil.

Sumber: Kitab Tauhid, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan.

Terkait:

SUMBER AKIDAH YANG BENAR DAN MANHAJ SALAF DALAM MENGAMBIL AKIDAH




Setelah kami bahas pada postingan sebelumnya tentang makna akidah dan urgensinya sebagai landasan agama, (lebih lanjut klik: Seri Akidah 1, MAKNA AKIDAH DAN URGENSINYA SEBAGAI LANDASAN AGAMA) pada kesempatan kali ini kami insyaAllah akan membahas tentang sumber akidah yang benar dan manhaj salaf dalam mengambil akidah masih merujuk kepada buku yang sama Kitab Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan..

Akidah adalah tauqifiyah atau sesuatu yang tidak bisa ditetapkan kecuali adanya dalil (bukti) yang bersumber dari syari’at islam, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya cukup hanya firman Allah dalam Al Qur’an dan sunnah Nabi dalam al Hadits. Oleh karena itu manhaj as salaf as shalih dan para pengikutnya dalam mengambil akidah terbatas pada al Qur’an dan Sunnah saja.

Maka apapun yang ditunjukan Al Qur’an dan Sunnah mereka mengimaninya, yakin dan mengamalkannya. Sedang apapun yang dilarang dalam Al Qur’an dan Sunnah maka mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan antara mereka dalam masalah akidah. Bahkan akidah mereka adalah satu dan jama’ah mereka juga satu.  Allah ta’ala telah menjamin orang beriman yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah dengan kesatuan kata, kebenaran akidah dan kesatuan manhaj. Allah berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai,…” (Ali Imran:103)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barang siapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (Thaha:123)

Karena itu mereka dinamakan firqah hajiyah (golongan yang selamat). Sebab Rosulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika umat ini akan terpecah menjadi beberapa golongan yang semuanya di Neraka kecuali satu golongan saja. Siapakah satu golongan yang selamat itu ? “Mereka adalah orang yang berada di ajaran yang sama dengan ajaranku (Rosulullah) pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR. Ahmad)


Telah benar sabda baginda Rosulullah tersebut ketika sebagian manusia membangun akidahnya di atas landasan selain dari Al Qur’an dan Sunnah, seperti ilmu kalam dan manthiq sebagai warisan dari filsafat Yunani dan Romawi. Maka terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam akidah yang mengakibatkan pecah belahnya umat dan retaknya masyarakat Islam. 
Allahu a'lam bish shawab.

Sabtu, 22 Oktober 2016

DO'A SETELAH SHALAT TAHAJUD (1)


Dari Ibnu 'Abbas dia berkata, "Jika Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bangun pada malam hari, maka beliau mengerjakan shalat tahajjud dan berdo'a :

'Allahumma lakal hamdu Anta Qayyimu'. (Dalam Riwayat yang lain:Qayyam) As Samaawaati wal ardhi wa man fii hinna. wa lakal hamdu, lakal mulku (dalam riwayat lain: Anta Robbu) As Samaawaati wal ardhi wa man fii hinna. Wa Lakal hamdu (Anta) nurus samaawaati wal ardhi (wa man fi hinna). wa lakal hamdu, Anta malikus samaawaati wal ardhi. wa lakal hamdu Antal haqqu, wa wa'dukal haqqu, wa liqaa'uka haqqun, wa qauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wa nabiyunaa haqqun, wa Muhammadun shalallahu 'alaihi wa sallam haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaasamtu, wa ilaika haakamtu. Fagfirli maa qaddamtu, wa maa akhhartu, wa maa asrartu, wa alantu, (wa maa anta a'lamu bihii minnii) antal muqaddimu, wa antal muakhiru, (anta ilaahi), laailaaha illa anta, au laa ilaaha ghairuka.'

Artinya: "Ya Allah bagiMu segala puji. Engkaulah penegak langit, bumi dan segala isinya. BagiMu segala puji. MilikMu kerajaan langit dan di bumi, serta segala isinya. BagiMu segala puji. [Engkaulah] pemberi cahaya langit dan bumi [serta segala isinya]. BagiMu segala puji. Engkaulah (sumber) kebenaran, janjiMu itu benar adanya, dan pertemuan denganMu benar adanya, firmanMu itu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam itu benar, kiamat itu benar adanya. Ya Allah kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah dosaku dimasa lalu, masa mendatang, yang tersembunyi, serta yang nampak, [karena Engkau lebih mengetahuinya dariku, Engkaulah yang terdahulu, dan yang terakhir. [Engkau Tuhanku] dan tidak ada tuhan (yang benar) kecuali Engkau, atau tidak ada tuhan (yang benar) [bagiku] kecuali Engkau."

*Mujahid berkata: "(Al Qayyum) bermakna yang berkuasa atas segala sesuatu."
*Umar membacanya (Al Qayyamu). Kedua lafadz tersebut Al Qayyum dan Al Qayyam menunjukan makna pujian.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari, Muhammad Nashiruddin Al Albani. Pustaka Azzam, Jilid 2, Kitab Shalat Tahajjud hal.83-85.

Rabu, 19 Oktober 2016

SEORANG IBU SETARA SERIBU LAKI LAKI


Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar dan berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di kelompok, sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, ia bertanya pada anak yang baru masuk itu, “Adakah surat yang kamu hapal dalam Al-Qur’an?” “Ya”, jawab anak itu singkat.
“Kalau begitu, coba hafalkan salah satu surat dari Juz ‘Amma?” pinta sang guru. Anak itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih dan benar. Merasa anak tersebut punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, “Apakah kamu juga hapal surat Tabaraka (Al-Mulk)?” “Ya”, jawabnya lagi, dan segera membacanya. Baik dan lancar. Guru itu pun terkagum-kagum dengan kemampuan hapalan si anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.
Dia pun coba bertanya lebih jauh, “Kamu hafal surat An-Nahl?” Ternyata anak itu pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu dia pun mengujinya dengan surat-surat yang lebih panjang, “Apa kamu hapal surat Al-Baqarah?” anak itu kembali mengiyakan dan langsung membacanya tanpa sedikit pun kesalahan. Semakin pennasaran, dan ia ingin menutup rasa penasaran itu dengan pertanyaan terakhir, “Anakku, apakah kamu hapal Al-Qur’an?” “Ya”, tuturnya polos.
Mendengar jawaban itu, seketika ia mengucap, “Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah.“
Di saat menjelang maghrib sebelum guru tersebut membubarkan anak-anak mengajinya, secara khusus ia berpesan kepada murid barunya, “Besok, kalau kamu datang kembali ke masjid ini, tolong ajak juga orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.”
Esok harinya, anak itu kembali datang ke masjid. Kali ini ia bersama ayahnya, seperti pesan si guru ngaji kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, sang guru bertambah penasaran karena sosoknya yang sama sekali tidak memberi kesan alim, terhormat dan pandai. Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa keheranannya terlebih dahulu, “Aku tahu, mungkin Anda tidak percaya bahwa aku ini adalah ayah anak ini. Tapi rasa heran Anda akan aku jawab, bahwa di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki. Aku katakan pada Anda bahwa di rumah, aku masih punya tiga anak lagi yang semuanya hapal Al-Qur’an. Anak perempuanku yang terkecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah hapal juz ‘Amma.”
“Bagaimana ibunya bisa melakukan itu?” tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah mulai bisa bicara, ia mulai pula membimbingnya menghapal Al-Qur’an, dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti, dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan pada mereka, “Siapa yang hapal lebih dulu, dialah yang menentukan menu makan malam kita malam ini,” “Siapa yang paling cepat mengulangi hapalannya, dialah yang berhak memilih kemana kita berlibur pekan depan,” dan “Siapa yang paling dulu mengkhatamkan hapalannya, dialah yang menentukan kemana kita jalan-jalan pada liburan nanti.” Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga terciptalah semangat bersaing dan berlomba di antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hapalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji istrinya.
Sebuah keluarga biasa, yang melahirkan anak-anak yang luar biasa, karena energi seorang ibu yang luar biasa.
Setiap kita, dan semua orang tua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang shalih, cerdas dan membanggakan. Tetapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai dan menghapal Al-Qur’an. Butuh perjuangan. Perlu kekuatan. Mesti tekun dan bersabar melawan rasa letih dan susah, tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, “Di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki.”
Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat dan perkasa. Sebab membuat permulaan yang baik untuk kehidupan anak-anak, sekali lagi tidak mudah. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu saja modal pertamanya adalah keshalihan diri. Tidak ada yang lain.
SUMBER: http://www.hasanalbanna.com/

Terkait:
Kami Tunggu Baktimu Nak !!

ISTILAH DALAM ILMU USHUL FIKIH


A. Istilah Hukum
1. Hukum Taklif
a. Fardhu
Adalah apa-apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh agama dengan tuntutan yang pasti dan harus, dengan dalil qath’i (pasti), Contohnya, rukun Islam yang lima, yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah mutawatirah, atau sesuatu yang termasyhur seperti membaca Al Quran dalam shalat. Maka jika hukum yang fardhu diberi pahala jika dikerjakan, dan disiksa jika ditinggalkan dan dihukumi kafir jika meninggalkannya.
b. Wajib
Adalah apa-apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh agama dengan tuntutan yang keras, dengan dalil yang zhan (tidak pasti), seperti, wajibnya zakat fitrah, shalat witir dengan dalil dari hadits ahad (tidak mutawatir).. Menurut qaidah lain, sesuatu yang diberi pahala jika dikerjakan, dan disiksa jika ditinggalkan dan tetapi tidak dihukumi kafir jika meninggalkannya. Jumhur ulama menyamakan antara wajib dan fardhu kecuali Madzhab Al Hanafiyah
c. Al Mandub atau Sunnah
Apa- apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh syara’ tetapi tidak dengan keras, atau apa-apa yang diberi pahala ketika mengerjakannya tetapi tidak disiksa jika meninggalkanya. Contohnya, menulis perjanjian utang, shalat sunnah rawatib, puasa sunnah dan lainnya. Para ulama menamakan mandub dengan nafilah, mustahab, tatawu’, muragab fihi, ihsan dan hasan, kecuali Al Hanafiyah, beliau membagi mandub kepada mandub muakkad seperti shalat jam’ah, mandub masyru’ seperti shaum hari senin dan kamis, mandub zaid seperti meniru Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. dalam makan dan minum.
d. Haram
Adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan oleh agama dengan tuntutan yang keras, menurut Al Hanafiyah, sesuatu yang harus ditinggalkan berdasarkan dalil yang qath’i seperti, haramnya membunuh, minum khamar, berzina dan lain sebagainya. Maka hukumnya wajib menjauhinya dan akan disiksa ketika meninggalkannya, Al Hanafiyah menamakan haram juga dengan, ma’shiyah, dzanba, qabih, mazjur anhu, muatawaidan alaih.

Selasa, 18 Oktober 2016

KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDIQ


Nama
Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.
Kun-yah
Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar
Laqb (Julukan)
Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).
Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,
اللهم إن هذا عتيقك من الموت ، فهبه لي
“Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”
Dan ada beberapa pendapat lain.
Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:
 إن كان قال فقد صدق
“Jika ia berkata demikian, maka itu benar”
Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:
وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Az Zumar: 33)
Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.
Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان
“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”
Kelahiran
Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.
Ciri Fisik
Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.
Jasa-jasa
  • Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.
  • Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
  • Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
  • Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais
  • Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad
Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu HurairahRadhiallahu’anhu:
لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم واستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق
“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”
Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:
نصر الله الإسلام بأبي بكر يوم الردّة ، وبأحمد يوم الفتنة
“Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”
Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu
  • Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau
  • Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.
  • Di masa pemerintahan beliau, Al Qur’an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.
  • Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:
والله لا أشيم سيفا سله الله على عدوه حتى يكون الله هو يشيمه
“Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” (HR. Ahmad dan lainnya)
Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Uhud:
شِـمْ سيفك ولا تفجعنا بنفسك . وارجع إلى المدينة ، فو الله لئن فُجعنا بك لا يكون للإسلام نظام أبدا
‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan.
  • Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa arab
Keutamaan
Tidak ada lelaki yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu
1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau
Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata:
كنا نخيّر بين الناس في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ، فنخيّر أبا بكر ، ثم عمر بن الخطاب ، ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم
“Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)
Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata:
كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر . وقال : إني كان بيني وبين ابن الخطاب شيء ، فأسرعت إليه ثم ندمت فسألته أن يغفر لي فأبى عليّ ، فأقبلت إليك فقال : يغفر الله لك يا أبا بكر – ثلاثا – ثم إن عمر ندم فأتى منزل أبي بكر فسأل : أثَـمّ أبو بكر ؟ فقالوا : لا ، فأتى إلى النبي فجعل وجه النبي صلى الله عليه وسلم يتمعّر ، حتى أشفق أبو بكر فجثا على ركبتيه فقال : يا رسول الله والله أنا كنت أظلم – مرتين – فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الله بعثني إليكم فقلتم : كذبت ، وقال أبو بكر : صَدَق ، وواساني بنفسه وماله ، فهل أنتم تاركو لي صاحبي – مرتين – فما أوذي بعدها
“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata: ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallamterlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari)
Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.
2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy
Allah Ta’ala berfirman,
ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”” (QS. At Taubah: 40)
As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam  berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan”.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya:
نظرت إلى أقدام المشركين على رؤوسنا ونحن في الغار فقلت : يا رسول الله لو أن أحدهم نظر إلى قدميه أبصرنا تحت قدميه . فقال : يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما
“Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”
Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.
Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata:
والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه وساعة خلفه ، حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أبا بكر مالك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ فقال : يا رسول الله أذكر الطلب فأمشي خلفك ، ثم أذكر الرصد فأمشي بين يديك . فقال :يا أبا بكر لو كان شيء أحببت أن يكون بك دوني ؟ قال : نعم والذي بعثك بالحق ما كانت لتكون من مُلمّة إلا أن تكون بي دونك ، فلما انتهيا إلى الغار قال أبو بكر : مكانك يا رسول الله حتى استبرئ الجحرة ، فدخل واستبرأ ، قم قال : انزل يا رسول الله ، فنزل . فقال عمر : والذي نفسي بيده لتلك الليلة خير من آل عمر
“Demi Allah,  satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah)
3. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya.  (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)
4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama
Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ
“Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)
5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash
Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:
لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ – أَوِ الرابعةِ – : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى
“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”
Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا
“Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”
Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:
قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. Bukhari-Muslim)
6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر
“Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)
7. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad
Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:
بعثني أبو بكر الصديق في الحجة التي أمره عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل حجة الوداع في رهط يؤذنون في الناس يوم النحر : لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان
“Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”
Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.
8. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah
Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)
9. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam
‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam:
أي الناس أحب إليك ؟ قال : عائشة . قال : قلت : من الرجال ؟ قال : أبوها
“Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)
10. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalil bagi Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam
Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, ia berkata:
خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم الناس وقال : إن الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده فاختار ذلك العبد ما عند الله . قال : فبكى أبو بكر ، فعجبنا لبكائه أن يخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عبد خير ، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو المخير ، وكان أبو بكر أعلمنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن مِن أمَنّ الناس عليّ في صحبته وماله أبا بكر ، ولو كنت متخذاً خليلاً غير ربي لاتخذت أبا بكر ، ولكن أخوة الإسلام ومودته ، لا يبقين في المسجد باب إلا سُـدّ إلا باب أبي بكر
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’”
11. Allah Ta’ala mensucikan Abu Bakar Ash Shiddiq
Allah Ta’ala berfirman:
وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى * إِلا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الأَعْلَى * وَلَسَوْفَ يَرْضَى
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21)
Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk as sabiquunal awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)
12. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberi tazkiyah kepada Abu Bakar
Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة . قال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لست تصنع ذلك خيلاء
“Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”” (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu BakarRadhiallahu’anhu)
13. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga
من أنفق زوجين من شيء من الأشياء في سبيل الله دُعي من أبواب الجنة : يا عبد الله هذا خير ؛ فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد ، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة ، ومن كان من أهل الصيام دُعي من باب الصيام وباب الريان . فقال أبو بكر : ما على هذا الذي يدعى من تلك الأبواب من ضرورة ، فهل يُدعى منها كلها أحد يا رسول الله ؟ قال : نعم ، وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al Bukhari – Muslim)
14. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
: من أصبح منكم اليوم صائما ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن تبع منكم اليوم جنازة ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن أطعم منكم اليوم مسكينا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن عاد منكم اليوم مريضا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما اجتمعن في امرىء إلا دخل الجنة
“Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’”
15. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Mereka berkata tentang Abu Bakar:
أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)
16. Ali Radhiallahu’anhu mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq
Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:
أي الناس خير بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أبو بكر . قلت : ثم من ؟ قال : ثم عمر ، وخشيت أن يقول عثمان قلت : ثم أنت ؟ قال : ما أنا إلا رجل من المسلمين
“Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)
Sikap Zuhud
Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar. Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali Radhiallahu’anhu:
لما احتضر أبو بكر رضي الله عنه قال : يا عائشة أنظري اللقحة التي كنا نشرب من لبنها والجفنة التي كنا نصطبح فيها والقطيفة التي كنا نلبسها فإنا كنا ننتفع بذلك حين كنا في أمر المسلمين ، فإذا مت فاردديه إلى عمر ، فلما مات أبو بكر رضي الله عنه أرسلت به إلى عمر رضي الله عنه فقال عمر رضي الله عنه : رضي الله عنك يا أبا بكر لقد أتعبت من جاء بعدك
“Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata, wahai ‘Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, ‘Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu’anhu. Umar pun berkata: ‘Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu’”
Sikap Wara’
Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu adalah orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika ia menjadi khalifah, ia pun tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab pun Radhiallahu’anhu melarangnya dan menganjurkan ia untuk mengambil upah dari baitul maal, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah.
Dikisahkan pula dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:
كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج ، وكان أبو بكر يأكل من خراجه ، فجاء يوماً بشيء ، فأكل منه أبو بكر ، فقال له الغلام : تدري ما هذا ؟ فقال أبو بكر : وما هو ؟ قال : كنت تكهّنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته ، فلقيني فأعطاني بذلك فهذا الذي أكلت منه ، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه . رواه البخاري
“Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan” (HR. Bukhari)
Wafat beliau
Beliau wafat pada hari Senin di bulan Jumadil Awwal tahun 13 H ketika beliau berusia 63 tahun.
Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga kelak.
Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah
 [Diterjemahkan dari http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/126.htm dengan beberapa peringkasan, takhrij dan tash-hih hadits dari penulis]
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id
Sumber: http://muslim.or.id/8725-biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html

Tentang Admin

Foto saya
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia