Hadits Nabi

"Barang Siapa Menunjukan Kepada Kebenaran Maka Baginya Pahala Seperti Pahala Pelakunya, Tanpa Mengurangi Pahala Sedikitpun Darinya."

Rabu, 02 November 2016

ETIKA DALAM BERDZIKIR


Sesungguhnya dalam berdzikir dan berdoa terdapat etika, adab syar’i yang mesti dilakukan, juga syarat-syarat yang diwajibkan. Tentu saja jika adab dan syarat tersebut dijaga maka doa dan dzikir kita akan memberi dampak tercapainya harapan  yang dipinta. Namun barang siapa tidak menghiraukan etika-etika tersebut maka ia patut mendapatkan tiga perkara; kemarahan Allah, dijauhkan dariNya dan tidak terkabulnya harapan atau doa. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal ini.

Disini kami akan menyebutkan adab-adab berdoa dan berdzikir serta syarat-syaratnya:

       1. Mengetahui riwayat dan kebiasaan para Nabi, para Rosul, serta orang-orang shalih ketika hendak meminta agar kebutuhannya terpenuhi oleh Rabbnya. Yaitu mereka bersegera berdiri dihadapan Rabbnya. Mereka membariskan kaki dalam shalat, kemudian mengangkat kedua telapak tangannya, mengalirkan air mata, memulai dengan bertaubat, serta meninggalkan penyimpangan mereka dengan memendam kekhusyu’an dalam hati mereka, sambil penuh rendah diri dan pasrah.
Dilanjutkan mereka menyanjung Rabbnya, mensucikanNya, mengagungkanNya, serta memujiNya. Setelah itu mereka mulai berdo’a dan memohon apa yang mereka kehendaki.
Kisah Nabi Ibrahim ketika akan berdo’a pada QS. Asy Syu’ara’:78-82, beliau menyanjung Rabbnyadengan lima kali sanjungan. Setelah itu Nabi Ibrahim memohon lima kebutuhan QS.Asy Syu’ara’: 83-87. Maka Allah memenuhi kebutuhan beliau kecuali satu perkara (permohonan ampun pada ayahnya).

2.       Hendaknya berdoa dengan penuh keikhlasan, sangat berharap kepada Allah untuk mengabulkan doanya, takut akan adzabNya, menundukan diri dan dengan kekhusyu’an. (QS. Al Anbiya’: 90)

3.       Memohon dengan penuh kepastian dan tidak ragu sedikitpun. Nabi bersabda: “Janganlah orang yang berdo’a mengatakan; ‘Ya Allah, rahmatilah saya jika Engkau menghendaki.’ Akan tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena Allah tidak ada yang memaksaNya.”(HR. Bukhari, no.6339 dan Muslim, no.2679)

4.       Hendaknya memperkuat harapannya kepada Allah yang Maha Mulia. Jangan sampai berputus asa terhadap rahmatNya. Bersabar dan tidak terburu-buru ingin segera di kabulkan. Nabi bersabda: “Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, ‘saya telah berdoa, namun tidak juga dikabulkan untukku.”

5.       Hendaknya meminta kebaikan untuk kaum mukminin. “Dan mohonlah ampun bagi dosamu dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

6.       Memulai dengan mentauhidkan Allah. Doa Nabi Yunus (QS. Al Anbiya’:87-88)

7.       Mengucapkan doanya secara rahasia dan tersembunyi. Sehingga tidak didengar selain Allah. “Berdoalah pada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS.Al A’raf:55)

8.       Menguatkan rasa rendah diri dan ketundukan. Menghindari kesombongan dan keangkuhan. (QS. Yusuf: 67)

9.       Dalam kondisi yang paling sempurna. Menghadap kiblat, menunduk, khusyu’ dan sangat merendahkan diri dihadapanNya. (Qs. Ali Imran: 190-191)

10.   Berdoa terus menerus atau mengulang ulangnya.

11.   Mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Dari Abu Musa Al asy’ari dia berkata: “Nabi meminta air dan beliau pun berwudhu dengan air itu. Kemudian beliau tengadahkan kedua tangan nya dan berdoa….” (-Potongan hadits- HR. Al Bukhari, no.4323 dan Muslim, no.2498)

12.   Berdoa dan berdzikir di tempat yang tenang dan bersih (suci). Abu Maisarah berkata, “Dzikir kepada Allah tidak dilakukan kecuali di tempat yang baik.”

13.   Mulutnya bersih (tidak berbau).

14.   Keadaan yang dilarang berdoa dan berdzikir. Ketika sedang buang hajat, saat bersetubuh dengan isterinya, saat khotib sedang berkhutbah, saat mengerjakan shalat.

15.   Mendahulukan menjawab salam saudaranya seiman, menjawab atau mendoakan saudaranya ketika bersin, dan kemudian kembali berdzikir.
                                            
Allahu ta’ala a’lam bish shawab.

Diringkas dari buku Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad hal.48-69, Penerbit Sukses Publising.
Surakarta, 29 Oktober 2016

Di postkan AbdulWahid.com

Postingan Terkait: 

30 MANFAAT BERDZIKIR


Sudah menjadi keharusan setiap umat beragama untuk mengingat tuhannya, menyebut namaNya dalam do’a-do’a maupun menyebutNya dalam segala bentuk perbuatan. Umat Islam diajarkan untuk selalu mengingat Allah setiap saat, ketika mata kita terbuka di waktu subuh atau sebelumnya Rosulullah mengajarkan untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat tidur dan nikmat bangun dari tidur yang tidak semua orang bisa merasakannya contohnya saudara-saudara kita yang sedang didzalimi di belahan dunia lain semisal Palestina, Suriah, Myanmar dll (semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan menyelesaikan permasalahan mereka). Hingga hal yang kecil Rosulullah juga menuntun umatnya untuk mengingat Allah, ketika akan masuk dan keluar dari kamar mandi atau tempat buang hajat.
Allah subhanahu wa ta’ala memotifasi umat Nya untuk selalu berdzikir dengan memberikan banyak keutamaan dan manfaat bagi pelakunya, diantaranya Allah jamin ketenangan hati pelakunya dan Allah selalu mengingat hambaNya selama hamba mengingatNya dan lain sebagainya yang insyaAllah akan kami sebutkan 30 faidah dzikir dibawah ini.

Allah ta’ala berfirman: “Maka ingatlah Aku niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS.Al Baqarah: 152)

Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin Zakariya agar diamalkannya. Kemudian Yahya memerintahkan Bani Israil supaya mengamalkan lima kalimat itu.”

Kemudian diantara perintah itu adalah:

“Dan saya memerintahkan kalian untuk selalu berdzikir kepada Allah. Sesungguhnya perumpaan dzikir seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, hinggaketika tiba di benteng yang kokoh, dia menjaga dirinya dari musuh-musuh itu. Demikian setiap hamba, dia tidak bisa menjaga dirinya dari setankecuali dengan berdzikir kepada Allah.” (HR. Ahmad 4/202 dan At Tirmidzi, no. 2872)

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya ‘Al Waabil Ash Shayyib’ menyebutkan bahwa dzikir memiliki faidah yang banyak diantaranya:
  1.   Dzikir dapat mengusir setan, membinasakan dan membuatnya lemah.
  2. Dzikir membuat Allah yang maha pengasih menjadi ridha kepada hambanya.
  3. .Menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dalam hati, sebaliknya ia justru mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan dan ketenangan bagi hati.
  4. Dapat memperkuat hati dan badan.
  5. Menerangi wajah dan hati.
  6. Mendatangkan rizeki.
  7. Memberikan martabat, keindahan, dan kesehatan bagi orang yang selalu menjalankannya.
  8.  Mendatangkan rasa cinta yang merupakan ruh islam. Merupakan poros agama ini. Dan inti kebahagiaan serta keselamatan.
  9.  Mendatangkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah dimanapun dan kapanpun) pada hamba.
  10.  Menjadikan orang yang melakukannya dengan istiqomah selalu kembali dan bertaubat kepada Allah.
  11.  Semakin dekat kepada Allah. Maka sesuai kadar dzikirnya kepada Allah, kedekatan itu ia dapatkan. Dan sesuai kadar kelalaiannya dari dzikir, ia menjadi jauh dari Allah.
  12.  Membuka pintu makrifat (pengetahuan tentang Allah yang menjadikan hamba semakin takut dan berhati-hati dalam menjalankan kehidupan ini) dan semakin memperbanyak dzikir maka semakin bertambah pula makrifatnya.
  13. Menjadikan pelakunya semakin takut kepada Allah. Karena penguasaan Allah terhadap hatinya sudah sangat besar. Berbeda dengan orang yang lalai maka rasa takut kepada Allah sangat tipis dalam hatinya.
  14.   Dzikir menjadikan Allah selalu mengingat orang yang selalu berdzikir kepadaNya.
  15.  Mendatangkan kehidupan bagi hati. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Bayangkan bagaimana kondisi ikan itu jika meninggalkan air ?.”
  16.   Dzikir adalah makanan hati.
  17.   Menjadikan hati cemerlang dan bersih dari karat-karatnya. Hati menjadi berkarat karena dua hal, kelalaian dan dosa.
  18.  Menghapus dan menghilangkan dosa-dosa. Karena dzikir merupakan kebaikan yang paling besar. Sementara kebaikan itu bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan.
  19.  Menghilangkan jarak anatara hamba dengan Rabbnya.  Sesungguhnya takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang diucapkan seorang hamba akan selalu di ingat Allah saat menghadapi malapetaka.
  20.   Jika hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir disaat lapang, maka Allah akan mengenalnya pada saat penderitaan.
  21.   Dzikir menyelamatkan dari siksa Allah.
  22.    Penyebab turunnya sakinah (ketenangan), hamba terliputi oleh rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat.
  23. Sabda Nabi: “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah kecuali ia akan dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, ketenangan turun kepada mereka, dan mereka disebut-sebut oleh Allah diantara makhluk yang ada disisiNya (Malaikat).” (HR. Muslim, no.2700)
  24.  Menjauhkan lisan dari menggibah (menggunjing), mengadu domba, berdusta, serta mengucapkan kata-kata kotor dan bathil.
  25.    Majlis dzikir adalah majlis para Malaikat,. Sementara mejelis yang penuh kelalaian adalah majelis para setan.
  26.    Mendatangkan kebahagiaan pada dirinya dan orang yang ada di sekitarnya. Orang seperti inilah yang di berkahi di manapun ia berada.
  27.   Membuat hamba aman sejahteradari kerugian pada hari kiamat. Dan setiap majelis yang di situ hamba tidak berdzikir kepada Allah, maka ia akan mendapat kebinasaan dan kerugian pada hari kiamat.
  28.   Dzikir yang diiringi tangis dalam kondisi sendirian dan tanpa diketahui manusia, menjadi sebab datangnya naungan Allah terhadap hamba pada hari mahsyar. Hamba akan mendapat naungan dibawah ‘ArsNya, sementara orang yang lain berada di bawah terik matahari.
  29.   Menyibukan diri dengan dzikir menyebabkan datangnya pemberian Allah yang paling afdhal terhadap hamba, dibandingkan yang biasa diperoleh orang-orang yang sering berdo’a.
  30.   Ibadah yang paling mudah. Tapi menjadi ibadah yang paling nikmat dan paling afdhal. Karena gerakan lisan merupakan gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah.
Demikian 30 faidhah berdzikir kepada Allah yang kami rangkum dari buku syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi bin Abdul Wahhab Al Ahmad terbitan Sukses publishing, semoga bermanfaat dan dapat menyemangati kita untuk selalu menggerakkan lisan untuk menyebut Allah, mengagunggkanNya, menyucikanNya, menyanjungNya setiap saat.
Semoga dengan memperbanyak dzikir, semakin banyak pula faidhah yang kita dapat terutama ridha Allah ta’ala.
اللهم اعنّا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك
“Ya Allah tolong bantu kami untuk selalu berdzikir kepadamu, mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baik ibadah.”
Allahu a’lam bish shawab

Surakarta, 29 Oktober 2016

Dipostkan oleh: AbdulWahid.com

PENYIMPANGAN AKIDAH DAN CARA MENANGGULANGINYA.


Penyimpangan dan perpecahan dari akidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena akidah yang benar merupakan motifator utama bagi amal yang bermanfaat.

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh akidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekalipun mereka bergelimang harta materi tapi terkadang hal itu malah menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan pengarahan dalam penggunaannya, dan tidak ada pengarahan yang benar kecuali akidah yang benar pula.

“Wahai para Rosul , makanlah dari makanan yang baik –baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (Al-Mukminun: 51)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,’ dan telah kami lunakan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (Saba’:10-11)

Maka kekuatan akidah tidak bisa lepas dari kekuatan materi. Jika hal itu terjadi dengan menyeleweng kepada akidah yang sesat/bathil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di Negara-negara kafir yang mempunyai materi namun tidak mempunyai akidah yang benar.

Ada beberapa sebab penyimpangan akidah shahihah yang harus kita ketahui:

1.      1. Kejahilan atau kebodohan terhadap akidah yang benar, karena adanya keengganan dalam mempelajari dan mengajarkanya, atau kurangnya perhatian terhadap nya, sehingga tumbuhlah generasi yang tidak mengenal akidah yang benar mapun sebaliknya.
Umar bin Khattab berkata: “Sesungguhnya ikatan simpul islam akan pudar satu persatu, manakala didalam islam terdapat orang (generasi) yang tidak mengenal kejahiliyahan.”

1.     2.  Fanatik pada suatu ajaran yang diwariskan nenek moyangnya, sekalipun hal itu salah, dan tidak memperdulikannya bahwa hal itu salah.

“Dan apabila dikatakan pada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab,’(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk ?.” (Al Baqarah: 170)

3.  Taqlid buta, mengambil pendapat manusia tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki kebenarannya. Seperti yang dilakukan golongan Mu’tazilah, Jahmiyah dll.

4.  Berlebihan dalam mencintai wali dan orang-orang shalih, dan meletakkan mereka pada ketinggian derajat yang tidak semestinya. Seperti menganggap mereka bisa mendatangkan manfaat dan menolak madharat, menjadikan mereka perantara antara Allah dan makhlukNya, hingga ke taraf penyembahan para wali dan meninggalkan penyembahan kepada Allah. Sebagaimana telah terjadi pada kaum nabi Nuh terhadap orang-orang shalih (pada zaman itu) ketika mereka berkata,
“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq dan Nasr.” (Nuh:23)

*Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama berhala-berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum nabi Nuh, yang semula nama-nama orang shalih.

5. Lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah, terbuai dengan teknologi-teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mereka mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata. 
Sebagaimana kesombongan Qorun yang mengatakan, 
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al Qashash: 78) 
Atau ucapan kesombongan yang lain:
 “Ini adalah hakku...” (Fushilat: 50)
 “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” (Az Zumar: 49)
 Mereka tidak berfikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan demi kepentingan manusia.

6-    Kosongnya keluarga dari pengarahan yang benar (menurut islam).
Rosulullah bersabda: “Setiap bayi iu dilahirkan atas dasar fitrah (islam). Maka kedua orangtuanya yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al Bukhari)

7-    Media pendidikan dan informasi enggan melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan yang tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata.

CARA-CARA MENANGGULANGI PENYIMPANGAN INI:

1.  Kembali kepada kitabullah dan sunnah Rosulullah untuk mrngambil akidah shahihah.

2.  Memberi perhatian pada pengajaran akidah shahihah, akidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.

3. Menetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Menjauhkan kitab-kitab kelompok penyeleweng atau sesat.

4. Menyebar para dai yang meluruskan akidah umat islam dengan mengajarkan akidah salaf serta menjawab dan menolak akidah bathil.

Sumber: Kitab Tauhid, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan.

Terkait:

SUMBER AKIDAH YANG BENAR DAN MANHAJ SALAF DALAM MENGAMBIL AKIDAH




Setelah kami bahas pada postingan sebelumnya tentang makna akidah dan urgensinya sebagai landasan agama, (lebih lanjut klik: Seri Akidah 1, MAKNA AKIDAH DAN URGENSINYA SEBAGAI LANDASAN AGAMA) pada kesempatan kali ini kami insyaAllah akan membahas tentang sumber akidah yang benar dan manhaj salaf dalam mengambil akidah masih merujuk kepada buku yang sama Kitab Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan..

Akidah adalah tauqifiyah atau sesuatu yang tidak bisa ditetapkan kecuali adanya dalil (bukti) yang bersumber dari syari’at islam, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya cukup hanya firman Allah dalam Al Qur’an dan sunnah Nabi dalam al Hadits. Oleh karena itu manhaj as salaf as shalih dan para pengikutnya dalam mengambil akidah terbatas pada al Qur’an dan Sunnah saja.

Maka apapun yang ditunjukan Al Qur’an dan Sunnah mereka mengimaninya, yakin dan mengamalkannya. Sedang apapun yang dilarang dalam Al Qur’an dan Sunnah maka mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan antara mereka dalam masalah akidah. Bahkan akidah mereka adalah satu dan jama’ah mereka juga satu.  Allah ta’ala telah menjamin orang beriman yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah dengan kesatuan kata, kebenaran akidah dan kesatuan manhaj. Allah berfirman:

Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai,…” (Ali Imran:103)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barang siapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (Thaha:123)

Karena itu mereka dinamakan firqah hajiyah (golongan yang selamat). Sebab Rosulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika umat ini akan terpecah menjadi beberapa golongan yang semuanya di Neraka kecuali satu golongan saja. Siapakah satu golongan yang selamat itu ? “Mereka adalah orang yang berada di ajaran yang sama dengan ajaranku (Rosulullah) pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR. Ahmad)


Telah benar sabda baginda Rosulullah tersebut ketika sebagian manusia membangun akidahnya di atas landasan selain dari Al Qur’an dan Sunnah, seperti ilmu kalam dan manthiq sebagai warisan dari filsafat Yunani dan Romawi. Maka terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam akidah yang mengakibatkan pecah belahnya umat dan retaknya masyarakat Islam. 
Allahu a'lam bish shawab.

Sabtu, 22 Oktober 2016

DO'A SETELAH SHALAT TAHAJUD (1)


Dari Ibnu 'Abbas dia berkata, "Jika Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bangun pada malam hari, maka beliau mengerjakan shalat tahajjud dan berdo'a :

'Allahumma lakal hamdu Anta Qayyimu'. (Dalam Riwayat yang lain:Qayyam) As Samaawaati wal ardhi wa man fii hinna. wa lakal hamdu, lakal mulku (dalam riwayat lain: Anta Robbu) As Samaawaati wal ardhi wa man fii hinna. Wa Lakal hamdu (Anta) nurus samaawaati wal ardhi (wa man fi hinna). wa lakal hamdu, Anta malikus samaawaati wal ardhi. wa lakal hamdu Antal haqqu, wa wa'dukal haqqu, wa liqaa'uka haqqun, wa qauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wa nabiyunaa haqqun, wa Muhammadun shalallahu 'alaihi wa sallam haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaasamtu, wa ilaika haakamtu. Fagfirli maa qaddamtu, wa maa akhhartu, wa maa asrartu, wa alantu, (wa maa anta a'lamu bihii minnii) antal muqaddimu, wa antal muakhiru, (anta ilaahi), laailaaha illa anta, au laa ilaaha ghairuka.'

Artinya: "Ya Allah bagiMu segala puji. Engkaulah penegak langit, bumi dan segala isinya. BagiMu segala puji. MilikMu kerajaan langit dan di bumi, serta segala isinya. BagiMu segala puji. [Engkaulah] pemberi cahaya langit dan bumi [serta segala isinya]. BagiMu segala puji. Engkaulah (sumber) kebenaran, janjiMu itu benar adanya, dan pertemuan denganMu benar adanya, firmanMu itu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam itu benar, kiamat itu benar adanya. Ya Allah kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah dosaku dimasa lalu, masa mendatang, yang tersembunyi, serta yang nampak, [karena Engkau lebih mengetahuinya dariku, Engkaulah yang terdahulu, dan yang terakhir. [Engkau Tuhanku] dan tidak ada tuhan (yang benar) kecuali Engkau, atau tidak ada tuhan (yang benar) [bagiku] kecuali Engkau."

*Mujahid berkata: "(Al Qayyum) bermakna yang berkuasa atas segala sesuatu."
*Umar membacanya (Al Qayyamu). Kedua lafadz tersebut Al Qayyum dan Al Qayyam menunjukan makna pujian.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari, Muhammad Nashiruddin Al Albani. Pustaka Azzam, Jilid 2, Kitab Shalat Tahajjud hal.83-85.

Rabu, 19 Oktober 2016

SEORANG IBU SETARA SERIBU LAKI LAKI


Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar dan berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di kelompok, sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, ia bertanya pada anak yang baru masuk itu, “Adakah surat yang kamu hapal dalam Al-Qur’an?” “Ya”, jawab anak itu singkat.
“Kalau begitu, coba hafalkan salah satu surat dari Juz ‘Amma?” pinta sang guru. Anak itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih dan benar. Merasa anak tersebut punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, “Apakah kamu juga hapal surat Tabaraka (Al-Mulk)?” “Ya”, jawabnya lagi, dan segera membacanya. Baik dan lancar. Guru itu pun terkagum-kagum dengan kemampuan hapalan si anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.
Dia pun coba bertanya lebih jauh, “Kamu hafal surat An-Nahl?” Ternyata anak itu pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu dia pun mengujinya dengan surat-surat yang lebih panjang, “Apa kamu hapal surat Al-Baqarah?” anak itu kembali mengiyakan dan langsung membacanya tanpa sedikit pun kesalahan. Semakin pennasaran, dan ia ingin menutup rasa penasaran itu dengan pertanyaan terakhir, “Anakku, apakah kamu hapal Al-Qur’an?” “Ya”, tuturnya polos.
Mendengar jawaban itu, seketika ia mengucap, “Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah.
Di saat menjelang maghrib sebelum guru tersebut membubarkan anak-anak mengajinya, secara khusus ia berpesan kepada murid barunya, “Besok, kalau kamu datang kembali ke masjid ini, tolong ajak juga orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.”
Esok harinya, anak itu kembali datang ke masjid. Kali ini ia bersama ayahnya, seperti pesan si guru ngaji kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, sang guru bertambah penasaran karena sosoknya yang sama sekali tidak memberi kesan alim, terhormat dan pandai. Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa keheranannya terlebih dahulu, “Aku tahu, mungkin Anda tidak percaya bahwa aku ini adalah ayah anak ini. Tapi rasa heran Anda akan aku jawab, bahwa di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki. Aku katakan pada Anda bahwa di rumah, aku masih punya tiga anak lagi yang semuanya hapal Al-Qur’an. Anak perempuanku yang terkecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah hapal juz ‘Amma.”
“Bagaimana ibunya bisa melakukan itu?” tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah mulai bisa bicara, ia mulai pula membimbingnya menghapal Al-Qur’an, dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti, dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan pada mereka, “Siapa yang hapal lebih dulu, dialah yang menentukan menu makan malam kita malam ini,” “Siapa yang paling cepat mengulangi hapalannya, dialah yang berhak memilih kemana kita berlibur pekan depan,” dan “Siapa yang paling dulu mengkhatamkan hapalannya, dialah yang menentukan kemana kita jalan-jalan pada liburan nanti.” Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga terciptalah semangat bersaing dan berlomba di antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hapalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji istrinya.
Sebuah keluarga biasa, yang melahirkan anak-anak yang luar biasa, karena energi seorang ibu yang luar biasa.
Setiap kita, dan semua orang tua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang shalih, cerdas dan membanggakan. Tetapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai dan menghapal Al-Qur’an. Butuh perjuangan. Perlu kekuatan. Mesti tekun dan bersabar melawan rasa letih dan susah, tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, “Di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki.”
Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat dan perkasa. Sebab membuat permulaan yang baik untuk kehidupan anak-anak, sekali lagi tidak mudah. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu saja modal pertamanya adalah keshalihan diri. Tidak ada yang lain.
SUMBER: http://www.hasanalbanna.com/

Terkait:
Kami Tunggu Baktimu Nak !!

ISTILAH DALAM ILMU USHUL FIKIH


A. Istilah Hukum
1. Hukum Taklif
a. Fardhu
Adalah apa-apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh agama dengan tuntutan yang pasti dan harus, dengan dalil qath’i (pasti), Contohnya, rukun Islam yang lima, yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah mutawatirah, atau sesuatu yang termasyhur seperti membaca Al Quran dalam shalat. Maka jika hukum yang fardhu diberi pahala jika dikerjakan, dan disiksa jika ditinggalkan dan dihukumi kafir jika meninggalkannya.
b. Wajib
Adalah apa-apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh agama dengan tuntutan yang keras, dengan dalil yang zhan (tidak pasti), seperti, wajibnya zakat fitrah, shalat witir dengan dalil dari hadits ahad (tidak mutawatir).. Menurut qaidah lain, sesuatu yang diberi pahala jika dikerjakan, dan disiksa jika ditinggalkan dan tetapi tidak dihukumi kafir jika meninggalkannya. Jumhur ulama menyamakan antara wajib dan fardhu kecuali Madzhab Al Hanafiyah
c. Al Mandub atau Sunnah
Apa- apa yang dituntut untuk dikerjakan oleh syara’ tetapi tidak dengan keras, atau apa-apa yang diberi pahala ketika mengerjakannya tetapi tidak disiksa jika meninggalkanya. Contohnya, menulis perjanjian utang, shalat sunnah rawatib, puasa sunnah dan lainnya. Para ulama menamakan mandub dengan nafilah, mustahab, tatawu’, muragab fihi, ihsan dan hasan, kecuali Al Hanafiyah, beliau membagi mandub kepada mandub muakkad seperti shalat jam’ah, mandub masyru’ seperti shaum hari senin dan kamis, mandub zaid seperti meniru Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. dalam makan dan minum.
d. Haram
Adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan oleh agama dengan tuntutan yang keras, menurut Al Hanafiyah, sesuatu yang harus ditinggalkan berdasarkan dalil yang qath’i seperti, haramnya membunuh, minum khamar, berzina dan lain sebagainya. Maka hukumnya wajib menjauhinya dan akan disiksa ketika meninggalkannya, Al Hanafiyah menamakan haram juga dengan, ma’shiyah, dzanba, qabih, mazjur anhu, muatawaidan alaih.

Tentang Admin

Foto saya
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia