Hadits Nabi

"Barang Siapa Menunjukan Kepada Kebenaran Maka Baginya Pahala Seperti Pahala Pelakunya, Tanpa Mengurangi Pahala Sedikitpun Darinya."

Rabu, 05 Oktober 2016

Khutbah Jum'at Masjid Nabawi; "PERBUATAN SYIRIK BESAR"


Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1].
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 70، 71].
Ma’asyiral muslimin,
Hal terbesar yang dapat membinasakan seseorang, hal yang merupakan kezaliman paling besar dan kejahatan yang paling jahat adalah menyekutukan Allah ﷻ. Siapa yang jatuh pada kesyirikan, maka ia bisa keluar dari agama. Dan seseorang yang wafat, namun belum taubat dari perbuatan itu, maka ia kekal di neraka.
﴿إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ﴾
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 72).
Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخلَ النَارَ»
“Siapa yang mati, dan dia menyeru kepada selain Allah sebagai sekutu, maka ia masuk neraka.” (HR. al-Bukhari).
Beliau ﷺ juga bersabda,
«مَنْ لَقِيَ اللهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»
“Siapa yang bertemu Allah dan ia menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.”
Oleh karena itu, siapa yang ingin sukses dan selamat, berharap kebaikan dan kesucian, hendaknya ia berhati-hati terhadap syirik dan segala wasilah serta pengantarnya. Sehingga ia menjadi seorang yang aman dan tenang di dunia dan akhirat. Allah ﷻ berfirman,
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:Al-An’am | Ayat: 82).
Nabi ﷺ bersabda,
«فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجَهَ اللهِ»
“Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada neraka orang-orang yang mengatakan laa ilaaha illallaah (tidak ada sesuatu yang berhak disembah kecuali Allah). Yang dengan kalimat itu ia berharap wajah Allah.”
Sabda beliau yang lain,
«مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الجَنَّةَ»
“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutkannya dengan sesuatu apapun, dia masuk surga.”
Di antara bentuk syirik besar adalah seseorang mengagungkan makhluk apapun kedudukan makhluk itu. Baik ia seorang nabi yang diutus atau malaikat yang dekat dengan Allah. Ia mengagungkannya sebagaimana mengagungkan Allah. Meyakini bahwa makhluk tersebut memiliki suatu sifat yang hanya khusus untuk Allah.
﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS:Al-Kahfi | Ayat: 110).
Nabi kita Muhammad ﷺ telah mewanti-wanti tentang prinsip ini. Beliau ﷺ bersabda,
«لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ»
“Jangan kalian mengagung-agungkan aku sebagaimana orang-orang Nashara mengagungkan Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba. Katakanlah, ‘Hamba Allah dan rasul-Nya’.”
Bentuk pengagungan seperti ini bisa terwujud dalam bentuk sumpah atas nama makhluk –siapaun dia-, bukan bersumpah atas nama Allah. Sumpah itu karena mengagungkan sebagaimana ia mengagungkan Allah ﷻ. Ini adalah syirik besar yang menghapus amal kebajikan. Kecuali hal itu terucap melalui lisan tanpa disengaja. Yang demikian adalah syirik kecil, sebesar-besarnya dosa besar.
Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia telah kufur atau syirik.”
Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan,
«إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Siapa yang ingin bersupah, bersumpahlah dengan menyebut nama Allah atau diam.”
Ma’syiral muslimin,
Di antara bentuk syirik besar yang menghapuskan amal dan membuat pelakunya kekal di neraka Jahannam adalah meyakini bahwasanya ada yang mampu mengatur alam selain Allah ﷻ. Bahwasanya ada selain Allah yang mampu memberi manfaat dan menolak balak. Oleh karena itu, siapa yang meyakini ada sesuatu yang berpengaruh pada dirinya, seperti memakai sarung tertentu, atau meletakkan benda tertentu di rumah, dengan keyakinan bahwa benda tersebut dapat mendatangkan manfaat dan menolak balak, maka yang demikian itu termasuk syirik besar.
﴿وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ  وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ﴾
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.” (QS:Yunus | Ayat: 107).
Bentuk syirik besar lainnya adalah suatu hal yang terjadi di kuburan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang awam yang menghadapkan diri kepada orang yang telah meninggal. Mereka meminta solusi dari masalah yang mereka hadapi. Meminta diberikan jalan keluar dari kesulitan. Meminta kepada mereka agar kebutuhan mereka terpenuhi. Berharap dari mereka terangkatnya musibah. Inilah seburuk-buruk perbuatan syirik besar. Perbuatan yang menyelisihi dakwah Rasulullah ﷺ.
﴿أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ﴾
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS:An-Naml | Ayat: 62).
Merupakan suatu kesesatan yang besar dan syirik yang nyata seseorang berdiam diri di kuburan yang tidak bisa memberi manfaat atau menolak bahaya untuknya. Ia sujud menghadapnya. Thawaf mengelilingi kuburan. Atau menyembelih kurban untuk kuburan tersebut. Atau meminta dan berharap kepadanya. Demi Allah yang demikian ini adalah pengkhianatan yang besar. Ini adalah syirik yang besar.
﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ﴾
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS:Al-Ahqaaf | Ayat: 5).
Allah ﷻ juga berfirman,
﴿وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS:Yunus | Ayat: 106).
Ibadallah,
Di antara bentuk kerugian besar lainnya adalah seseorang menjadi sesuatu sebagai sandaran selain Allah ﷻ. Tiap kali ia mendapatkan kesulitan. Atau ditimpa suatu musibah. Ia berseru, “Wahai Fulan!” Ini sama saja dengan melupakan Dzat Yang Maha Mampu, Rabb yang penuh kasih sayang. Ini adalah syirik yang nyata,
﴿إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ﴾
“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 194).
Kaum muslimin,
Jadilah seorang hamba yang ikhlas kepada Rabb kalian. Memurnikannya dalam berdoa dan berharap. Dalam rasa takut dan cinta. Dalam ketundukan dan merendahkan diri.
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS:Al-An’am | Ayat: 162-163).
Lihatlah Rasulullah ﷺ yang berdoa kepada Rabbnya dengan tauhid. Dan beliau adalah da’i yang paling utama dalam permasalahan ini. Beliau ﷺ menjaga sekuat tenaga dari keburukan itu. beliau ﷺ bersabda,
«لَعَنَ اللهُ المُتَّخِذِيْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
“Semoga Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).”
Kemudian beliau ﷺ menyebut orang-orang seperti ini dengan seburuk-buruk makhluk.
«أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوْا القُبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketauhilah! Jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Karena aku melarang yang demikian.”
Dalam hadits yang lain di dalam as-Sunan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَائِرَاتِ القُبُوْرِ، وَالمُتَّخِذِيْنَ عَلَيْهَا المَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ
“Rasulullah melaknat peziarah-peziarah kubur yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan meletakkan penerangan padanya.”
Ma’asyiral muslimin,
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling bersemangat dalam menjaga keagungan Allah. yakni menjaga tauhi dan memurnikan ibadah kepada-Nya. Beliau ﷺ menggunakan segala upaya untuk menjaga hak Allah ﷻ ini.
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwattha, Rasulullah ﷺ bersabda,
«اَللَّهُمَّ لَا تجعَلْ قبري وَثَنًا يُعبَدُ، اشتدَّ غضَبُ اللهِ على قومٍ اتَّخَذُوا قبورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
“Ya Allah jangan Engkau jadikan kuburku berhala yang disembah. Besar kemarahan Allah kepada kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”
Nabi ﷺ menutup segala celah yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesyirikan. Beliau ﷺ bersabda,
«لَا تَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُوْا عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ»
“Jangan kalian jadikan kuburku tempat perayaan. Dan bershalawatlah kepadaku, sungguh shalawat kalian sampai padaku dimanapun kalian berada.” (HR. Abu Dawud).
Maksud beliau, jangan jadikan kuburku tempat berkumpul di waktu-waktu yang dikhususkan.
Kaum muslimin,
Berhati-hatilah Anda sekalian dari musibah yang besar ini. musibah yang membinasakan. Ketahulah! Sesungguhnya setan senantiasa mengintai. Ia menjadikan kesyirikan dan perbuatan-perbuatan hina lainnya menjadi indah dalam pandangan manusia. Mereka menghalangi manusia dari tauhid dan kesuciannya.
Para ulama mengatakan, “Setan itu menyesatkan anak Adam sesuai kadarnya.. …demikian juga penyembah bintang-bintang dan berhala-berhala, setan telah membisiki mereka dan mewujudkan sebagian permintaan mereka. mereka berdoa kepada yang ruh-ruh gaib dan orang-orang yang telah meninggal. Setan menjelma menjadi apa yang mereka seru, menjadi sesuatu yang di-istighatsahi. Setan memenuhi sebagian apa yang mereka minta. Manusia-manusia itu menyangka setan itu adalah malaikat. Padahal itu adalah setan yang menyesatkan orang yang meminta itu karena dia telah menyekutukan Allah. Setan juga masuk ke dalam patung-patung. Dan setan-setan itu dijadikan tempat mengadu.”
Para ulama melanjutkan, “Terkadang setan juga berwujud seseorang yang diseur selain Allah. Dan orang itu mewujudkan sebagian permintaan mereka”.
Kaum mukminin,
Bertakwalah kepada Allah. realisasikanlah pengagungan terhadap Allah yang menciptakan kalian.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ العَلِيُّ الأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، فَتَحَ اللهُ بِهِ أَعْيُنًا عُمْيًا، وَآذَانًا صُمًّا ، وَقُلُوْبًا غُلْفًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَتْقِيَاءِ.
أما بعد:
Kaum muslimin,
Peribadatan adalah murni hak Allah ﷻ semata. Perintah pertama yang Anda baca dalam halaman Alquran adalah:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 21).
Dan Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda,
«وَحَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ: أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا»
“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Ibadah adalah suatu istilah yang maknanya meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Baik berupa perkataan maupun perbuatan. Yang tampak, seperti: shalat, zakat, puasa, haji, dan perintah-perintah lainnya. Dan yang batin, seperti: rasa takut kepada Allah, rasa harap, cinta, dll. siapa yang memalingkan hal-hal tersebut kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.
Saudaraku kaum muslimin,
Waspadalah dan benar-benar waspada! Karena hal ini merupakan sebesar-besarnya hal yang bahaya dan seburuk-buruk keburukan.
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 48).
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُوْمَهُمْ، اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُوْمَهُمْ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ كُرُبَاتِهِمْ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ كُرُبَاتِهِمْ، اَللَّهُمَّ حَقِّقْ لَهُمُ الْأَمْنَ وَالأَمَانَ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ الفِتَنَ عَنِ المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَطْفِئْ الفِتَنَ عَنِ المُسْلِمِيْنَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ يَا عَزِيْزُ يَا حَكِيْمُ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ المُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اَللَّهُمَّ وَلِّ عَلَى المُسْلِمِيْنَ خِيَارَهُمْ، وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَلِّ عَلَى المُسْلِمِيْنَ خِيَارَهُمْ، وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَلِّ عَلَى المُسْلِمِيْنَ خِيَارَهُمْ، وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ، إِنَّكَ القَادِرُ عَلَى ذَلِكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ:
اُذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا، وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Husein bin Abdul Aziz alu asy-Syaikh (Imam dan Khotib Masji an-Nabawi).
Judul asli: Shuwar min asy-Syirk al-Akbar
Tanggal: 21 Dzul Hijjah 1437 H
Penerjemah: tim KhotbahJumat.com

Kunjungi Juga : DAKWAH KEPADA KALIMAT SYAHADAT

Selamat Hari Jum'at !

Hari Jumat merupakan hari raya tiap pekan
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya saat ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena itu, mandilah dan hendaklah kalian Bersiwak (menggosok gigi).” (H.r. Tabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir, dan dinilai sahih oleh Al-Albani)
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَة يَوْمُ عِيدٍ ، فَلَا تَجْعَلُوا يَوْم عِيدكُمْ يَوْم صِيَامكُمْ , إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْله أَوْ بَعْده
“Sesungguhnya, hari Jumat adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.” (H.r. Ahmad dan Hakim; dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)
Hari Jumat merupakan “yaumul mazid” (hari tambahan) bagi penduduk surga
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أتاني جبريل وفي يده كالمرآة البيضاء فيها كالنكتة السوداء فقلت يا جبريل ما هذه قال الجمعة قال قلت وما الجمعة قال لكم فيها خير قال قلت وما لنا فيها قال يكون عيدا لك ولقومك من بعدك ويكون اليهود والنصارى تبعا لك قال قلت وما لنا فيها قال لكم فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها شيئا من الدنيا والآخرة هو له قسم إلا أعطاه إياه أو ليس بقسم إلا ادخر له عنده ما هو أفضل منه أو يتعوذ به من شر هو عليه مكتوب إلا صرف عنه من البلاء ما هو أعظم منه قال قلت له وما هذه النكتة فيها قال هي الساعة هي تقوم يوم الجمعة وهو عندنا سيد الأيام ونحن ندعوه يوم القيامة ويوم المزيد قال قلت مم ذاك قال لأن ربك تبارك وتعالى اتخذ في الجنة واديا من مسك أبيض فإذا كان يوم الجمعة هبط من عليين على كرسيه تبارك وتعالى ثم حف الكرسي بمنابر من ذهب مكللة بالجواهر ثم يجيء النبيون حتى يجلسوا عليها وينزل أهل الغرف حتى يجلسوا على ذلك الكثيب ثم يتجلى لهم ربك تبارك وتعالى ثم يقول سلوني أعطكم قال فيسألونه الرضى فيقول رضائي أحلكم داري وأنيلكم كراسي فسلوني أعطكم قال فيسألونه قال فيشهدهم أنه قد رضي عنهم قال فيفتح لهم ما لم تر عين ولم تسمع أذن ولا يخطر على قلب بشر قال وذلكم مقدار انصرافكم من يوم الجمعة …. قال فليسوا إلى شيء أحوج منهم إلى يوم الجمعة ليزدادوا إلي ربهم نظرا وليزدادوا منه كرامة
Jibril pernah mendatangiku, dan di tangannya ada sesuatu seperti kaca putih. Di dalam kaca itu, ada titik hitam. Aku pun bertanya, “Wahai Jibril, ini apa?” Beliau menjawab, “Ini hari Jumat.” Saya bertanya lagi, “Apa maksudnya hari Jumat?” Jibril mengatakan, “Kalian mendapatkan kebaikan di dalamnya.” Saya bertanya, “Apa yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Hari jumat menjadi hari raya bagimu dan bagi kaummu setelahmu. Sementara, orang Yahudi dan Nasrani mengikutimu (hari raya Sabtu–Ahad).” Aku bertanya, “Apa lagi yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Di dalamnya, ada satu kesempatan waktu; jika ada seorang hamba muslim berdo'a bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia serta akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya di dunia, maka pasti Allah kabulkan do'anya. Jika itu bukan jatahnya maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang lebih baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan do'anya.” Aku bertanya lagi, “Apa titik hitam ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah kiamat, yang akan terjadi di hari Jumat. Hari ini merupakan pemimpin hari yang lain menurut kami. Kami menyebutnya sebagai “yaumul mazid”, hari tambahan pada hari kiamat.” Aku bertanya, “Apa sebabnya?” Jibril menjawab, “Karena Rabbmu, Allah, menjadikan satu lembah dari minyak wangi putih. Apabila hari Jumat datang, Dia Dzat yang Mahasuci turun dari illiyin di atas kursi-Nya. Kemudian, kursi itu dikelilingi emas yang dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian, datanglah para nabi, dan mereka duduk di atas mimbar tersebut. Kemudian, datanglah para penghuni surga dari kamar mereka, lalu duduk di atas bukit pasir. Kemudian, Rabbmu, Allah, Dzat yang Mahasuci lagi Mahatinggi, menampakkan diri-Nya kepada mereka, dan berfirman, “Mintalah, pasti Aku beri kalian!” Maka mereka meminta ridha-Nya. Allah pun berfirman, “Ridha-Ku adalah Aku halalkan untuk kalian rumah-Ku, dan Aku jadikan kalian berkumpul di kursi-kursi-Ku. Karena itu, mintalah, pasti Aku beri!” Mereka pun meminta kepada-Nya. Kemudian Allah bersaksi kepada mereka bahwa Allah telah meridhai mereka. Akhirnya, dibukakanlah sesuatu untuk mereka, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Dan itu terjadi selama kegiatan kalian di hari jumat …. sehingga tidak ada yang lebih mereka nantikan, melebihi hari Jumat, agar mereka bisa semakin sering melihat Rabb mereka dan mendapatkan tambahan kenikmatan dari-Nya.” (H.r. Ibnu Abi Syaibah, Thabrani dalam Al-Ausath, Abu Ya’la dalam Al-Musnad, dan statusnya hasan atau sahih, sebagaimana keterangan Abdul Quddus Muhammad Nadzir)
Khutbah Jum'at Masjid Nabawi; "PERBUATAN SYIRIK BESAR"
Terlarangnya puasa jika dilakukan pada hari Jumat saja
Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk melakukan puasa di hari Jumat saja, padahal saat hari Kamis, dia tidak berpuasa, dan di hari Sabtu, dia juga tidak puasa.
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika telah berpuasa sehari sebelumnya atau akan puasa sehari setelahnya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,
نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يفرد يوم الجمعة بصوم
“Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyendirikan hari Jumat untuk berpuasa.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)
3. Dari Junadah Al-Azdi; beliau mengatakan,
دخلت على رسول الله صلى الله عليه و سلم في سبعة نفر من الأزد أنا ثامنهم يوم الجمعة ونحن صيام فدعانا رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى طعام بين يديه فقلنا انا صيام قال هل صمتم أمس قلنا لا قال فهل تصومون غدا قلنا لا قال فافطروا ثم خرج إلى الجمعة فلما جلس على المنبر دعا بإناء من ماء فشربه والناس ينظرون إليه ليعلمهم أنه لا يصوم يوم الجمعة
“Saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat bersama tujuh orang dari suku Azd, dan saya adalah orang kedelapan. Saat itu, kami sedang berpuasa. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang kami untuk makan di depannya. Kami pun mengatakan, ‘Saya sedang puasa.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kemarin kalian puasa?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah besok kalian akan berpuasa?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Berbukalah!’ Lalu beliau berangkat shalat Jumat. Ketika beliau di atas mimbar, beliau minta dibawakan air, kemudian beliau minum dan orang-orang melihatnya, untuk mengajari mereka bahwa beliau tidak berpuasa di hari Jumat.” (H.r. Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar)
4. Dari Ummul Mukminin, Juwairiyah binti Al-Harits radhiallahu ‘anha; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya di hari Jumat, sementara dia sedang berpuasa. Beliau bertanya, “Apakah kemarin kamu puasa?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah besok kamu mau puasa?” Beliau menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Berbukalah!” (H.r. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Abi Syaibah)
5. Dari Laila, istri Basyir radhiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Sesungguhnya, Basyir bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bolehkah saya berpuasa di hari Jumat dan tidak berbicara dengan seorang pun di hari itu?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab,
لا تصم يوم الجمعة الا في أيام هو أحدها أو في شهر وأما أن لا تكلم أحدا فلعمرى لأن تكلم بمعروف وتنهى عن منكر خير من ان تسكت
‘Janganlah kamu berpuasa di hari Jumat, kecuali jika kamu berpuasa beberapa hari –salah satunya adalah hari Jumat– atau puasa sebulan. Adapun tentang dirimu yang tidak ingin berbicara dengan seorang pun maka sungguh engkau berbicara yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran itu lebih baik daripada engkau diam.” (H.r. Ahmad, Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, dan Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Tidak boleh mengkhususkan hari Jumat untuk shalat malam
Sebagian orang beranggapan bahwa kita dianjurkan untuk memperbanyak shalat tahajud di malam Jumat karena malam ini memiliki keutamaan yang banyak. Anggapan ini adalah anggapan yang salah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk mengkhususkan malam Jumat untuk ibadah.
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud dan meninggalkannya di malam yang lain. Jangan pula mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa, kecuali dalam rangkaian puasa kalian.” (H.r. Muslim)
2. Dari Muhammad bin Sirrin; beliau mengatakan,
Dahulu, Abu Darda’ menghidupkan malam Jumat dengan ibadah, dan beliau berpuasa di siang harinya. Suatu ketika, datanglah Salman –dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah mempersaudarakan keduanya– kemudian beliau tidur di rumahnya. Salman pun memperhatikan Abu Darda’ dan tidak membiarkannya, sampai Abu Darda’ tidur dan tidak berpuasa. Maka datanglah Abu Darda’ menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan menceritakan perjumpaannya dengan Salman. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Uwaimir (nama asli Abu Darda’), Salman lebih tahu daripada kamu. Janganlah mengkhususkan malam Jumat untuk shalat dan siang harinya untuk puasa.” (H.r. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf)
Anjuran untuk membaca surat khusus ketika shalat subuh di hari Jumat
Dianjurkan bagi orang yang melaksanakan shalat subuh di hari Jumat untuk membaca surat As-Sajdah di rekaat pertama dan surat Al-Insan di rekaat kedua.
  1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika shalat subuh di hari Jumat, membaca “alif-lam-mim, as-sajdah” (surat As-Sajdah) dan “hal ata ‘alal insani …” (surat Al-Insan). Sementara, pada shalat Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Jumu’ah dan surat Al-Munafiqun. (H.r. Muslim dan Abu Daud)
  2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan, “Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika shalat subuh di hari Jumat, membaca ‘alif-lam-mim … tanzil, as-sajdah‘ (surat As-Sajdah) dan ‘hal ata ‘alal insani‘ (surat Al-Insan).” (H.r. Bukhari dan Muslim)
Sebagian malaikat duduk di depan pintu masjid
Di hari Jumat, Allah mengutus beberapa malaikat untuk berjaga di pintu masjid, mencatat setiap orang yang datang jumatan sebelum khatib naik mimbar.
1. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا كان يوم الجمعة قعدت الملائكة على أبواب المسجد فيكتبون الناس من جاء من الناس على منازلهم فرجل قدم جزورا ورجل قدم بقرة ورجل قدم شاة ورجل قدم دجاجة ورجل قدم عصفورا ورجل قدم بيضة قال فإذا أذن المؤذن وجلس الإمام على المنبر طويت الصحف ودخلوا المسجد يستمعون الذكر
“Apabila hari Jumat datang, para malaikat duduk di depan pintu masjid-masjid. Mereka mencatat setiap orang yang datang sesuai dengan waktu kedatangan mereka. Ada orang yang seperti berkurban unta, ada yang seperti berkurban sapi, ada yang seperti berkurban kambing, ada yang seperti berkurban ayam, ada yang seperti berkurban burung, dan ada yang seperti berkurban telur. Ketika muazin melakukan azan dan imam sudah duduk di mimbar maka buku catatan ditutup dan mereka masuk masjid, mendengarkan khotbah.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth)
2. Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,
إذا كان يوم الجمعة قامت الملائكة بأبواب المسجد فيكتبون الناس على منازلهم الاول فإن تأخر رجل منهم عن منزله دعت له الملائكة يقولون اللهم إن كان مريضا فاشفه اللهم إن كانت له حاجة فاقض له حاجته فلا يزالون كذلك حتى إذا خرج الامام طويت الصحف ثم ختمت فمن جاء بعد نزول الامام فقد أدرك الصلاة ولم يدرك الجمعة
“Apabila hari Jumat datang, malaikat berjaga di pintu-pintu masjid. Mereka mencatat setiap orang yang datang sesuai tingkat kedatangannya. Apabila ada orang yang telat datang maka malaikat ini berdoa untuknya. Mereka memanjatkan doa, ‘Ya Allah, jika dia sakit maka sembuhkanlah dia, dan jika dia punya kepentingan maka selesaikanlah kebutuhannya.’ Mereka terus melakukan hal itu, sampai imam datang. Ketika imam datang, buku catatan ditutup kemudian distempel. Barang siapa yang datang setelah imam turun maka dia hanya mendapatkan shalat dan tidak mendapatkan jumatan.”
Keterangan:
Sanad hadis ini hasan. Hanya saja, statusnya mauquf sampai Abu Umamah. Artinya, ini adalah perkataan Abu Umamah radhiallahu ‘anhu.
Di hari jumat terdapat satu waktu yang mustajab
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyinggung hari Jumat, kemudian beliau bersabda,
فيه ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلي يسأل الله تعالى شيئا إلا أعطاه إياه
“Di hari Jumat, ada satu waktu, apabila ada seorang muslim melakukan shalat dan dia memohon sesuatu kepada Allah, pasti Allah beri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu itu hanya sebentar. (H.r. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خير يوم طلعت فيه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه تقوم الساعة وفيه ساعة لا يسأل الله عز و جل فيها عبد يصلى خير الا أعطاه الله وقللها وقال بيده هكذا انها قليلة
“Hari terbaik saat matahari terbit adalah hari Jumat. Di hari ini, Adam diciptakan; di hari ini pula, kiamat terjadi; di hari Jumat terdapat satu waktu, apabila ada seorang hamba yang shalat, memohon kepada Allah di waktu itu, maka Allah akan memberikan pintanya.” (H.r. Abu Daud Ath-Thayalisi; statusnya hasan lighairihi)
3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن في الجمعة ساعة لا يوافقها مسلم وهو في صلاة يسأل الله خيرا الا آتاه إياه قال وقللها
“Sesungguhnya, di hari Jumat, ada satu waktu; tidaklah seorang muslim yang shalat, dia memohon kebaikan kepada Allah, dan bertepatan dengan waktu tersebut, kecuali Allah pasti akan mengabulkannya.” (H.r. Ahmad; statusnya sahih)
Anjuran memperbanyak salawat di hari Jumat
1. Dari Aus bin Aus radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا على من الصلاة فيه فان صلاتكم معروضة على فقالوا يا رسول الله وكيف تعرض عليك صلاتنا وقد أرمت يعنى وقد بليت قال إن الله عز و جل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء صلوات الله عليهم
“Di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca salawat untukku di hari Jumat karena salawat kalian ditunjukkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana salawat itu ditunjukkan kepada Anda padahal Anda telah menjadi tanah (mati)?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi –shallallahu ‘alahim ajma’in–.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)
2. Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ , فَإِنَّ صَلاةَ أُمَّتِي تُعْرَضُ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ , فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَيَّ صَلاةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّي مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah membaca salawat untukku setiap hari Jumat, karena salawat umatku ditunjukkan kepadaku setiap hari Jumat. Siapa saja yang paling banyak salawatnya untukku maka dia adalah orang yang paling dekat kedudukannya denganku.”
Keterangan:
Status hadis ini diperselisihkan oleh para ulama ahli hadis. Ada yang menilainya kuat dan ada yang menilainya dhaif. Di antara ulama yang menilainya dhaif adalah Imam Adz-Dzahabi dan Syekh Nashiruddin Al-Albani. Adapun ulama yang menerima hadis ini di antaranya adalah As-Suyuti. Hadis ini juga disebutkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib; beliau mengatakan, “Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad hasan.”
Kiamat terjadi di hari Jumat
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة
“Hari terbaik saat matahari terbit adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam dimasukkan ke surga; di hari itu pula, Adam dikeluarkan dari surga; dan kiamat tidak akan terjadi kecuali di hari Jumat.” (H.r. Muslim, Ahmad, dan Turmudzi)
Orang yang meninggal di hari Jumat akan dilindungi dari fitnah (ujian) alam kubur
Dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة الا وقاه الله فتنة القبر
“Tidaklah seorang muslim yang meninggal di hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan lindungi dirinya dari fitnah (ujian) alam kubur.” (H.r. Ahmad; dinilai sahih oleh Ahmad Syakir serta Al-Albani)
Anjuran membaca surat Al-Kahfi pada malam atau siang hari Jumat
1. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (H.r. Ad-Darimi; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis inisahih)
2. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (H.r. An-Nasa’i dan Baihaqi; Al-Albani mengatakan bahwa hadis inisahih)
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits. Sumber Artikel www.KhotbahJumat.com
Kunjungi Juga: DAKWAH KEPADA KALIMAT SYAHADAT

Selasa, 04 Oktober 2016

Balaghoh (8), INSYA' THOLABI, AMAR


INSYA' THOLABI, AMAR


أمَّا الأمْرُ، فهوَ طَلَبُ الفعْلِ على وجهِ الاستعلاءِ، ولهُ أربعُ صِيَغٍ
Adapun yg dikatakan AMAR (perintah) adalah menuntut pekerjaan atas jalan isti’laa’ (dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah).

Bentuk Amar ada empat macam:
1. Fi’il Amar,
contoh : KHUDZ ! AL-KITAABA BI QUWWAH
فعْلُ الأمرِ، نحوُ: خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

2. Fi’il Mudhari’ yang bersambung dengan LAM AMAR,
contoh: LIYUNFIQ ! DZUU SA’ATIN MIN SA’ATI HII
والمضارِعُ المقرونُ باللامِ، نحوُ: لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ

3. Isim Fi’il Amar,
contoh HAYYA ‘! ALAS-SHOLAAH
واسمُ فعْلِ الأمْرِ، نحوُ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

4. Isim Masdar yg mengganti tugas Fi’il Amar,
contoh: SA’YAN ! ILAAL-KHOIR
والمصدرُ النائبُ عنْ فِعْلِ الأمْرِ، نحوُ: سَعْيًا فِي الْخَيْرِ

MAKNA-MAKNA LAIN SHIGHAT AMAR (shighat amar yg empat di depan)

وقدْ تَخْرُجُ صِيَغُ الأمرِ عنْ معناها الأصليِّ إلى معانٍ أُخَرَ تُفْهَمُ منْ سياقِ الكلامِ، وقرائنِ الأحوالِ
erkadang shighat amar itu keluar dari makna asal (menuntut pekerjaan atas jalan Isti’laa’) kepada makna lain yg dapat dimafhumi dari konteks kalimatnya ata…u qorinah keadaan-keadaannya, sbb:


1. DOA (menuntut pekerjaan atas jalan rendah diri dan penuh tunduk (tadharru’ dan khudhu’), baik kepada yg lebih tinggi ataupun yg lebih rendah)
contoh:
 أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
 AWZI’ NII AN ASYKURO NI’MATAKA

2. ILTIMAS (permintaan dengan jalan halus dan ramah, bukan lebih tinggi (isti’laa’) atau rendah diri (tadharru’).
Contoh perkataanmu pada orang yg setara:
كقولِكَ لِمَنْ يُساويكَ: أَعْطِنِي الْكِتَابَ
A’THINIL-KITAABA = tolong berikan buku itu padaku!

3. TAMANNI (harapan kosong, mengharap sesuatu yg didambakan tanpa semangat, karena tahu bahwa itu takkan terjadi).
Contoh syair Imru’ul –Qaisy :
أَلاَ أيُّها الليلُ الطويلُ ألا انْجَلِي = بصُبْحٍ وما الإصباحُ منكَ بأمْثَلِ
ALAA AYYUHA-LLAILU-TTHOWIILU, ALAA INJALII BI SHUBHIN WA MAA-LISHBAAHU MINKA BI AMTSAALI.
Ketahuilah… wahai malam yang panjang, gerangan apa… bergantilah kamu dengan pagi, begitupun pagi itu tidaklah lebih baik darimu.
syahid syair ttg TAMANNI :
1. Tahu bahwa malam tidak bisa diperintah berganti pagi kecuali kebiasaannya .
2. Tahu bahwa perubahan nasib takkan terjadi sekalipun malam berganti pagi.

4. TAHDID (menakut-nakuti atau mengancam secara mutlaq baik ancaman tsb disebutkan atau tidak) contoh Firman Allah :
والتهديدِ، نحوُ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ
 I’MALUU MAA SYI’TUM = berbuatlah sesukamu..!

5. TA’JIIZ (melemahkan, untuk melemahkan pihak yang diperintah)
contoh syair oleh Muhalhil bin Robi’ah:

يا لَبَكْرٍ أَنْشِروا لي كُلَيْبًا = يا لَبَكْرٍ أينَ أينَ الفِرار
YAA LABAKRIN ANSYIRUU LII KULAIBAN = YAA LABAKRIN AINA AINAL-FIROORU?
Wahai keluarga Bakar… hidupkanlah kembali saudaraku Kulaib! Okelah wahai keluarga Bakar… kemana kamu mau lari?
(syahid syair diatas ttg TA’JIIZ: memerintah lawan untuk menghidupkan kembali orang yg dibunuh)*
*(contoh Firman Allah : “..buatlah satu surat (saja) yang semisal al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS al Baqarah:23)

6. TASWIYAH (menyamakan antara dua hal, dimana mukhotob menyangka bahwa salah satunya lebih baik dari yg lain)
contoh:
والتسويةِ، نحوُ: اصْبِرُوا أَوْ لاَ تَصْبِرُوا
ISHBIRUU AW LAA TASHBIRUU = bersabarlah kamu atau janganlah kamu bersabar (QS. Ath-Thuur :16)*
*( contoh lain Firman Allah: Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik” (QS. Taubah :53)

Baca Juga: Balaghoh (6), INSYA' GHOIRU THOLABI dan Balaghoh (1) DEFINISI BALAGHOH

Balaghoh (7), ILMU MA'ANI


ILMU MA'ANI
Tentang Taqdim dan Takhir
(maksud taqdim dan ta’khir disini adalah tujuan lafazh diucapkan sebagai permulaan atau sebagai akhiran, bukan masksud mengedepankan lafazh yg sesungguhnya ada di belakang atau sebaliknya)

من المعلومِ أنَّهُ لا يُمْكِنُ النطْقُ بأجزاءِ الكلامِ دُفعةً واحدةً، بلْ لا بدَّ منْ تقديمِ بعضِ الأجزاءِ وتأخيرِ البعضِ، وليسَ شيءٌ منها في نفسِه أَوْلَى بالتقدُّمِ من الآخَرِ؛ لاشتراكِ جميعِ الألفاظِ من حيثُ هيَ ألفاظٌ في درجةِ الاعتبارِ، فلا بدَّ منْ تقديمِ هذا على ذاك منْ داعٍ يُوجِبُه. فمِنَ الدواعي:
sebagaimana dimaklumi bahwa tidak mungkin mengucapkan bagian-bagian kalimat dengan satu ucapan sekaligus. Mustinya ada bagian kata yang dikedepankan dan bagian lain diakhirkan. Tidaklah lafazh yang dikedepankan itu lebih utama dari lafazh yg diakhirkan, dikarenakan bersekutunya diantara semua lafazh-lafazh secara pertimbangan derajatnya. Dan tentunya ada suatu motif atau alasan mengedepankan lafazh ini daripada lafazh itu.
Diantara motif-motif tersebut adalah:

1. ATTASYWIQ ILAL-MUTA’AKHKHIR
Memberi rangsangan untuk mengetahui kepada lafazh yg di belakang, bilamana lafazh yg di depan mengandung gharabah (ketidak jelasan). Contoh sebuah syair:

وَالَّذِي حَارَتِ البَرِيَّةُ فِيهِ = حَيَوَانٌ مُسْتَحْدَثٌ مِنْ جَمَادِ
WAL-LADZI HAAROTIL-BARIYYATU FIIHI # HAYAWAANUN MUSTAHDATSUN MIN JAMAADIN*
Sesuatu yg bikin manusian bingung dibuatnya adalah # hewan-hewan diperbarui kembali dari tanah
(maksudnya, kelak dihari kebangkitan manusia dibangkitkan kembali sebagaimana jasad manusia di dunia)
*ALLADZI berikut jumlah shilahnya dikedepankan sebagai Mubtada’ yg mengandung gharabah. Sehingga pendengar terdorong atau terobsesi untuk mengetahui lafazh yg dibelakang yaitu HAYAWANUN berikut jumlah sifatnya, diakhirkan sebagai Khobarnya.

2. TA’JIL AL-MASARRAH AW AL-MASAA-AH
Menyegerakan kabar gembira atau kabar buruk. Contoh:
العفوُ عنكَ صدَرَ بهِ الأمرُ، 
AL-’AFWU ‘ANKA SHADARA BIHI AL-AMRU
“sebuah amnesti untukmu itulah perkara yg terjadi”
(Amnesti atau pengampunan oleh pemerintah adalah kabar gembira, didahulukan penyebutannya untuk menyegerakan kabar baik yg terjadi kepada lawan bicara)

أوْ القِصاصُ حَكَمَ بهِ القاضي
AL-QISHASH HAKAMA BIHI AL-QODHIY
“Qishash adalah hukum yg diputuskan oleh hakim”
(Qishah yg menjadi keputusan hakim adalah kabar buruk, didahulukan penyebutannya untuk menyegerakan penyampaian kabar buruk yg terjadi pada diri lawan bicara)

Baca Juga: Balaghoh (8), INSYA' THOLABI, AMAR

Tentang Admin

Foto saya
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia