Hadits Nabi

"Barang Siapa Menunjukan Kepada Kebenaran Maka Baginya Pahala Seperti Pahala Pelakunya, Tanpa Mengurangi Pahala Sedikitpun Darinya."

Selasa, 04 Oktober 2016

Balaghoh (6), INSYA' GHOIRU THOLABI


INSYA GHAIRU THALABI الإنشاء غير الطلبي

وغيرُ الطَّلَبيِّ يكونُ بالتعجُّبِ والقَسَمِ وصِيغِ العُقودِ، كـ (بِعْتُ) و(اشتريتُ)، ويكونُ بغيرِ ذلكَ
Insya’ ghairu tholabi adalah berupa Ta’ajjub (takjub/kagum), Qosam (sumpah), ‘Uqud (akad-akad perjanjian) contoh BI’TU “aku menjual” ISYTAROITU “aku membeli”. Dan ada juga yg tidak demikian (contoh: Af’alur Roja =ASAA-HAROO-IHLAWLAQA, Af’alul Madhi =NI’MA, af’alul Dzammi BI’SA, dll).

وأنواعُ الإنشاءِ غيرِ الطَّلَبِيِّ ليستْ منْ مَباحثِ عِلْمِ المعانِي؛ فلِذا ضَرَبْنَا صَفْحًا عنها
Macam-maca Insya Ghairu Tholabi bukanlah pembahasan Ilmu Ma’ani, oleh karenanya kami menghindar dari membahasnya.

Beberapa Motif/Alasan Adz-Dzikr: Ziyadah Taqrir & Idhah dan At-Tasjil
Diantara motif-motif adz-dzikr (penyebutan lafazh)


1. “ZIYADAH TAQRIR & IDHAH” / Menambah penetapan (dalam diri pendengar) dan menambah penjelasan (untuk kefahaman pendengar).
Contoh :
أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“ULAA-IKA” ‘ALAA HUDAN MIN ROBBIHIM WA “ULAA-IKA” HUMUL-MUFLIHUUN. (“mereka itulah” yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan “mereka itulah” orang-orang yang beruntung )

2. “AT-TASJIIL” / mencatat, menandai pernyataan kepada pendengar sehingga tidak ada lagi timbul ke ingkaran.
Contoh sebagaimana hakim berkata kepada saksi:

هلْ أقرَّ زيدٌ هذا بأنَّ عليهِ كذا؟ فيقولُ الشاهدُ: نعم، زيدٌ هذا أَقَرَّ بأنَّ عليهِ كذا
HAL AQARRA “ZAIDUN HAADZAA” BI ANNA ‘ALAIHI KADZAA?
(apakah “Zaid ini” mengaku bahwa ia begini?)
Maka saksi menjawab:
NA’AM, “ZAIDUN HAADAA” AQARRA BI ANNA ‘ALAIHI KADZAA
(betul, “Zaid ini” mengaku bahwa ia begini.)

Motif al-Hadzf/alasan membuang lafazh
Beberapa motif AL-HADZF (pembuangan lafaz tanpa adanya qorinah)

1. IKHFAUL-AMR, Merahasiakan perkara pada selain mukhotob yg bersangkutan.
Contoh:
(أقبِلْ)، تريدُ (عليًّا) مثلًا
AQBIL! (terimalah olehmu!) dimaksudkan “olehmu” disini misalnya kepada seorang Ali saja. (karena diantara pemirsa hanya Ali dan mutakallim saja yg tahu qorinahnya)

2. DHIQUL-MAQOM, (sempitnya situasi) baik karena situasi menderita, contoh dalam Syair:

قَالَ لِي كَيْفَ أنْتَ قُلْتُ عَلِيلُ سَهرٌ دَائِمٌ وَحُزْن طَوِيلُ
QOOLA LIY KAIFA ANTA QULTU ‘ALIILU # SAHRUN DA-IMUN WA HUZNUN THAWIILU
Dia berkata padaku “bagaimana keadaanmu” aku menjawab “sakit,.. karena selalu sulit tidur dan kesediahan yg panjang” (yakni, “aku sakit”)

وإمَّا لخوفِ فواتِ فرصةٍ، نحوُ قولِ الصيَّادِ: (غزالٌ)
Atau situasi takut kehilangan kesempatan, contoh seorang pemburu berkata : GHAZAL! “kijang!” (yakni, “ini kijang”)

3. TA’MIM BIL IKHTISHAR (menjadikan umum dengan meringkas)
contoh:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ
WALLAAHU YAD’UU ILAA DAARIS-SALAAM
“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)”
Yakni, YAD’UU “JAMII-A ‘IBAADIHI” (yakni, menyeru kepada “semua hambaNya”) tidak menyebut ma’mulnya menandakan pemberitahuan secara umum.

4. Memposisikan fi’il muta’addi sebagai fi’il lazim, dikarenakan tidak adanya target yang berta’alluq sebagai makmulnya.
Contoh Firman Allah:
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
HAL YASTAWIL-LADZIINA “YA’LAMUUNA” WAL-LADZIINA “LAA YA’LAMUUN”?
Adakah sama orang-orang yang “mengetahui” dengan orang-orang yang “tidak mengetahui?” (yakni, pengetahuan ttg ilmu).

Bersandarnya kalimah fi’il pada Naibul Fail, juga dibilang sebagai motif al-Hadzf. Makanya disebutkan: dibuangnya Fa’il dikarenakan takut kepadanya atau kepada yg lain, atau karena sudah difahami, atau karana tidak diketahui. Contoh:
سُرِقَ المتاعُ
SURIQO AL-MATA’
Barang berharga itu telah dicuri

خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
KHULIQOL-INSAANU DHA’IIFAA
Manusia tercipta sebagai insan dhaif

Kunjungi Juga: Balaghoh (8), INSYA' THOLABI, AMAR dan Balaghoh (7), ILMU MA'ANI


Balaghoh (5), NIDA'



NIDA النداءُ


وأمَّا النداءُ، فهوَ طَلَبُ الإقبالِ بحرْفٍ نائبٍ مَنَابَ (أَدْعُو)، وأدواتُه ثمانيةٌ: (يا)، والهمزةُ، و(أيْ)، و(آ)، و(آي)، و(أيا)، و(هيا)، و(وا).
Adapun yg disebut NIDA (panggilan) adalah: menuntut tanggapan/perhatian, dengan menggunakan huruf nida sebagai pengganti dari lafazh AD’UU (aku memanggil).
Adawat nida ada delapan:
1. يا =Yaa
2. أ =Hamzah
3. أي =Ay
4. آ =Aa
5. آي =Aay
6. أيا =Ayaa
7. هيا =Hayaa
8. وا =Waa

فالهمزةُ و(أَيْ) للقريبِ، وغيرُهما للبعيدِ
Huruf nida Hamzah dan Ay digunakan untuk penggilan dekat, huruf nida selain keduanya digunakan untuk panggilan jauh.

وقدْ يُنَزَّلُ البعيدُ مَنْزِلةَ القريبِ فَيُنَادى بالهمزةِ و(أيْ)، إشارةً إلى أنَّهُ لِشِدَّةِ استحضارِه في ذِهْنِ المتكلِّمِ صارَ كالحاضِرِ معهُ، كقولِ الشاعرِ
Dan terkadang panggilan jauh tsb diposisikan menjadi panggilan dekat, dengan menggunakan kata panggil Hamzah atau Ay. Sebagai isyarat bahwa di dalam fikiran mutakallim sangat membutuhkannya. Maka dihukumi sebagaimana dia berada bersamanya. Contoh perkataan seorang penyair:

أسُكَّانَ نَعْمانَ الْأَرَاكِ تَيَقَّنُوا = بأنَّكم في رَبْعِ قَلْبيَ سُكَّانُ
Wahai penghuni lembah Na’manal-Araak, yakinlah… sesungguhnya kalian berada di sekeliling hatiku.

وقدْ يُنَزَّلُ القريبُ مَنزلةَ البعيد،ِ فيُنادى بأحَدِ الحروفِ الموضوعةِ له، إشارةً إلى أنَّ المنادَى عظيمُ الشأنِ، رفيعُ المرْتَبَةِ، حتَّى كأنَّ بُعْدَ درجتِه في العِظَمِ عنْ درجةِ المتكلِّمِ بُعْدٌ في المسافةِ، كقولِك: (أيا مولايَ)، وأنت معَهُ.
أوْ إشارةً إلى انحطاطِ درجتِه، كقولِك: (أيا هذا)، لِمَنْ هوَ معكَ
أوْ إشارةً إلى أنَّ السامعَ غافلٌ لنحْوِ نوْمٍ أوْ ذهولٍ، كأنَّهُ غيرُ حاضرٍ في المجلِسِ، كقولِكَ للساهِي: (أيا فلانُ)
Dan terkadang panggilan dekat diposisikan menjadi panggilan jauh, dengan menggunakan salah satu huruf nida jarak jauh. Sebagai isyarat bahwa yg dipanggil itu lebih agung statusnya, ditinggikan martabatnya. Sehingga jauhnya derajat munada ketimbang derajat mutakallim dalam hal keagungan, seakan jauh dalam jarak. Contoh kamu berkata: AYAA MAULAAYA = “wahai tuanku” padahal kamu bersamanya.

Atau digunakan sebagai isyarat kerendahan derajat orang yg dipanggil. Contoh kamu berkata: AYAA HAADZAA “hai kamu ini” pada sesorang yang besamamu.
Atau digunakan sebagai isyarat bahwa pendengarnya lengah semisal orang tidur atau orang yg kacau pikirannya, seakan dia tidak hadir pada tempat. Contoh perkataanmu pada orang lalai tsb: AYAA FULAANU “hai fulan”.

Kunjungi Juga: Balaghoh (6), INSYA' GHOIRU THOLABI

Balaghoh (4), ISTIFHAM


Istifham الاستفهام


وأمَّا الاستفهامُ، فهوَ طَلَبُ العلْمِ بشيءٍ، وأدواتُه الهمزةُ، و(هلْ)، و(ما)، و(مَنْ)، و(متى)، و(أيَّانَ)، و(كيفَ)، و(أينَ)، و(أنَّى)، و(كمْ)،  و(أيُّ).
Adapun yg dikatakan istifham (dlm ilmu ma’ani) adalah, menuntut pengetahuan tentang sesuatu. Adad istifham (alat kata Tanya) berupa
1. Hamzah
2. Hal
3. Maa
4. Man
5. Mataa
6. Ayyaana
7. Kaifa
8. Aina
9. Annaa
10. Kam dan
11. Ayyu.

1. HAMZAH (أ = A) 

فالهمزةُ، لطَلَبِ التصوُّرِ أو التصديقِ
Dipergunakan untuk menuntut:

1. TASHAWWUR (penggambaran/konsepsi)

والتصوُّرُ: هوَ إدراكُ المفرَدِ، كقولِكَ: (أعليٌّ مسافرٌ أَمْ خالدٌ؟)، تَعتقِدُ أنَّ السفَرَ حَصَلَ منْ أحدِهما، ولكنْ تَطْلُبُ تعيينَه؛ ولذا يُجابُ بالتعيينِ، فيُقالُ: (عليٌّ)، مَثلًا.
Tashowwur (penggambaran) adalah : hal mengetahui mufrad (salah-satu dari dua bagian penisbatan (musnad ataupun musnad ilaih)).
Contoh kamu berkata:
“A ‘ALIYYUN MUSAAFIRUN AM KHOOLID?”
“Apakah yg pergi itu ALI atau KHOLID?” (menanyakan mufrad yg berupa musnad ilaih)
Kamu meyakini bahwa penisbatan SAFAR/perjalanan telah berhasil terjadi pada salah-seorang keduanya, namun kamu menuntut Ta’yin (penentuan). Oleh karena itu dijawab secara Ta’yin, maka dijawab: “ALI ” –misalnya.

2. TASHDIQ (pembenaran nisbat/konfirmasi)

والتصديقُ: هوَ إدراكُ النِّسبةِ، نحوُ: (أسافَرَ عليٌّ)؟ تَستفْهِمُ عنْ حصولِ السفَرِ وعدَمِه. ولذا يُجابُ بـ (نعم) أوْ (لا
Tashdiq (pembenaran) adalah : hal mengetahui nisbat contoh:
“A SAAFARO ALIY?”
“Apakah ALI PERGI?” (menanyakan nisbat/hukum perginya Ali)
Menuntut pengetahuan tentang terjadinya pergi atau tidak, oleh karena itu dijawab “NA’AM=iya” atau “LAA= tidak”

والمسؤولُ عنه في التصوُّرِ ما يَلِي الهمزةَ، ويكونُ لهُ معادِلٌ يُذْكَرُ بعدَ (أمْ)، وتُسَمَّى متَّصِلَةً
Suatu yang dipertanyakan (dg adat istifham hamzah) dalam hal tashowwur yaitu lafazh yang mengiringi hamzah, kemudian ada lafazh Mu’adil (pertimbangan) yang disebut setelah أم (AM=ataukah) dan dinamakan AM MUTTASHILAH.

Contoh dalam istifham tentang musnad ilaih :

أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟
“A ANTA FA’ALTA HADZA AM YUSUF?” = “apakah KAMU yg mengerjakan ini ataukah YUSUF?”

Contoh istifham tentang musnad:
أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ أَمْ راغبٌ فيه؟
“A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-’AMRI AM ROOGHIBUN FIIHI?” = “apakah KAMU MEMBENCI perkara itu, ataukah KAMU MENYUKAI-nya?”

Contoh istifham tentang maf’ul:
وعن المفعولِ: (أَإِيَّايَ تَقْصِدُ أَمْ خالدًا؟
A IYYAAYA TAQSHIDU AM KHOOLIDAN?
Apakah KEPADAKU kamu bermaksud, ataukah KEPADA KHOLID?

Contoh istifham tentang haal:
وعن الحالِ: (أراكبًا جئتَ أَمْ ماشيًا؟
A ROOKIBAN JI’TA AM MAASYIYAN? = apakah BERKENDARAAN kamu datang, ataukah JALAN KAKI?

Contoh istifham untuk dhorof (waktu/tempat):
وعن الظرْفِ: (أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ أَمْ يومَ الجمُعَةِ؟
A YAUMUL-KHOMIISI QADIMTA AM YAUMAL-JUM’ATI? = apakah HARI KAMIS kamu datang, ataukah HARI JUM’AT?

Demikian juga untuk ta’alluq istifham yg lain. (misal jar-majrur, maf’ul mutlaq, liajlih dan sebaginya disebut dalam kitab yg lebih detil)

.وقدْ لا يُذْكَرُ المعادِلُ، نحوُ: (أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا؟)، (أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ؟)، (أإيَّايَ تَقْصِدُ؟)، (أراكبًا جئتَ؟)، (أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ؟)
Terkadang tidak menyebut Mu’adil (tapi tetap disebut IDROK TASHOWUR bukan IDROK TASHDIQ dengan mengira-ngira ada mu’adil sebagaimana contoh tersebut diatas).
Contoh :
A ANTA FA’ALTA HADZA? = apakah KAMU yg mengerjakan ini?
A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-AMRI? = apakah kamu MEMBENCI perkara itu?
A IYYAAYA TAQSHIDU? = apakah KEPADAKU maksudmu?
A ROOKIBAN ANTA? = apakah BERKENDARA kamu datang?
A YAUMAL-KHOMIISI QODIMTA? = apakah DI HARI KAMIS kamu datang?

والمسؤولُ عنه في التصديقِ النِّسبةُ. ولا يكونُ لها معادِلٌ، فإنْ جاءتْ (أمْ) بعدَها قُدِّرتْ منْقَطِعَةً، وتكونُ بمعنى (بلْ
Hal yg ditanyakan di dalam tashdiq yaitu nisbat, dan tidak ada Mu’aadil. Apabila terdapat أم (am) setelahnya, maka diakdir sebagai AM MUNQOTI’ (Am Munfashilah) dan mempunyai arti BAL = Bahkan.
==========

2. HAL (هل)
و (هلْ) لطلَبِ التصديقِ فقطْ
Berfungsi untuk menuntut TASHDIQ saja.
Contoh:

نحوُ: (هلْ جاءَ صديقُكَ)؟ والجوابُ: (نعم) أوْ (لا) ولذا يَمتَنِعُ معها ذِكْرُ المعادِلِ، فلا يُقالُ: (هلْ جاءَ صديقُك أمْ عدوُّك
HAL JAA-A SHODIIQUKA? = apakah temanmu telah datang? dan sebagai jawabannya adalah : NA’AM atau LAA.
Oleh karenanya dilarang menyebut Mu’aadil, maka jangan mengatakan :
HAL JAA-A AHODIIQUKA AM ‘ADUWWUKA?

و (هل) تُسمَّى بسيطةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ في نفسِه، نحوُ: (هَلِ العَنْقَاءُ موجودةٌ؟). ومركَّبةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ لشيءٍ، نحوُ: (هلْ تَبِيضُ العَنْقَاءُ وتُفْرِخُ؟)
HAL dinamakan Basithah jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu dalam zatnya. Contoh HAL AL-’UNQO-U MAUJUUDUN? = apakah BURUNG UNQA’ itu ada? (burung mitos berkepala dan bersayap seperti garuda dan berbadan spt singa).
Dan dinamakan Murokkab jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu didalam sesuatu. Contoh. HA TABYADHDHU AL-UNQO’ WA TUFRIKHU? = apakah BURUNG UNQA’ itu BERTELUR DAN MENETAS? (disebut murokkab sbb mempertanyakan keberadaan burung unqa’ tentang bertelur dan menetas).
==========
3. MAA (ما)


و(ما) يُطْلَبُ بها شرحُ الاسمِ، نحوَ: ما العَسْجَدُ أو اللُّجَيْنُ؟ أوْ حقيقةُ الْمُسمَّى، نحوُ: (ما الإنسانُ؟) أوْ حالُ المذكورِ معها، كقولِك لقادِمٍ عليك: (ما أنتَ؟)
Digunakan untuk mempertanyakan keterangan/penjelasan suatu nama. Contoh:
MAA AL’ASJAD AW LAJAIN? = apa itu asjad? atau lajain? (asjad=emas, lajain=perak). Atau mempertanyakan hakikat sesuatu yg diberi nama. Contoh: MAA AL-INSAN? Apa itu manusia? Atau mempertanyakan hal-ihwal lafal yg disebut bersama MAA. Contoh kamu berkata pada orang yg datang padamu: MAA ANTA? = siapa kamu? (jawab: Tamu, atau Utusan Raja).
==========

4. MAN (من)
و (مَن) يُطلَبُ بها تَعيينُ العُقلاءِ، كقولِك: (مَنْ فَتَحَ مِصْرَ؟
Menuntut menentukan suatu yang berakal, contoh: MAN FATAHA MISHRO? Siapa yg menaklukkan Mesir? (jawab: Amr bin ‘Ash)
===========

5. MATAA (متى)
و(متى) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ، ماضيًا كانَ أوْ مستَقْبلًا، نحوُ: (متى جِئْتَ؟) و(متى تَذْهَبُ؟
Menuntut menentukan zaman baik madhi (telah lewat) atau istiqbal (akan datang). Contoh:
MATAA JI’TA? Kapan kamu datang? MATAA TADZHABU? Kapan kamu akan pergi?
==========

6. AYYAANA (أيان)
و(أيَّانَ) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ المستَقْبَلِ خاصَّةً، وتكونُ في موضِعِ التهويلِ، كقولِه تعالى: {يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ}؟
Menuntut menentukan zaman istiqbal scara khusus, dan digunakan suatu yg luar biasa. Contoh Firman Allah:
YAS’ALU AYYAANA YAUMUL QIYAAMATI? = ia bertanya bilakah hari kiamat?
==========

7. MATAA (متى)
و(كيفَ) يُطْلَبُ بها تعيينُ الحاِل، نحوُ: (كيفَ أنتَ
Menuntut menentukan hal keadaan. Contoh:
KAIFA ANTA? Bagaimana keadaan kamu?
==========
8. AINA (أينَ)
و(أينَ) يُطْلَبُ بها تعيينُ المكانِ، نحوُ: (أينَ تَذْهَبُ؟)
Menuntut menentukan tempat. Contoh:
AINA TADZHABU? = kemana kamu pergi?
==========

9. ANNAA أنى


و(أنَّى) تكونُ بمعنى (كيفَ)، نحوُ: {أَنَّى يُحْيِـي هَـذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا}؟ وبمعنى (مِنْ أينَ)، نحوَ: {يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا}؟ وبمعنى (متى)، نحوُ: (زِدْ أنَّى شئتَ؟)
1. Sama dengan ma’na KAIFA. Contoh :
ANNAA YUHYII HADZIHI ALLAAHU BA’DA MAUTIHAA?
Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?
2. sama dengan ma’na MIN AINA. Contoh:
YAA MARYAMU ANNAA LAKI HADZAA?
Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?
3. Sama dengan ma’na MATAA. Contoh:
ZID ANNAA SYI’TA?
Tambahkan kapankah kamu suka?.
==========

10 KAM (كم)
و(كمْ) يُطلَبُ بها تَعيينُ عددٍ مبْهَمٍ نحوُ:{كَمْ لَبِثْتُمْ}؟
Menuntut untuk menentukan jumlah/hitungan yg samar. Contoh:
KAM LABITSTUM?
Berapa lama kalian tinggal?
==========

11. AYYU (أي)
و(أيُّ) يُطْلَبُ بها تمييزُ أحَدِ المتشاركيْنِ في أمْرٍ يَعمُّهما، نحوُ: {أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا}؟
ويُسأَلُ بها عن الزمانِ والمكانِ والحالِ والعددِ والعاقلِ وغيرِه، حسَبَ ما تُضَافُ إليه
Menuntut untuk membedakan satu dari dua kemungkinan didalam perkara yg mengumumi pada keduanya. Contoh:
AYYU-LFARIIQOINI KHOIRUN MAQOOMAN?
Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya?
Makna-makna Istifham: Taswiyah, Nafi, Inkar, Amar, Nahi, Tasywiq, Tahqir


MAKNA-MAKNA BENTUK ISTIFHAM


وقدْ تَخْرُجُ ألفاظُ الاستفهامِ عنْ معناها الأصليِّ لمعانٍ أُخَرَ تُفْهَمُ منْ سياقِ الكلامِ
Terkadang lafazh-lafazh Istifham itu keluar dari makna asal (pertanyaan/menuntut tashowwur atau tashdiq) kepada makna lain yg dapat difahami dari siyaq kalam/konteks kalimat:

1. Taswiyah (menyamakan):

كالتسويةِ، نحوُ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ
SAWAAUN ‘ALAIHIM A ANDZARTAHUM AM LAM TUNDZIRHUM
sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan

2. Nafi (meniadakan):
والنفيِ، نحوُ هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ
HAL JAZAAUL-IHSAANI ILLAL-IHSAANU
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

3. Inkar (mengingkari):
والإنكارِ، نحوُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ، أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
A GHAIRO-LLAAHI TAD’UUNA
Apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah
A LAISA-LLAAHU BIKAAFIN ‘ABDAHU
Apakah Allah tidak cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya

4. Amar (memerintah):
والأمْرِ، نحوُ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ، ونحوُ أَأَسْلَمْتُمْ، بمعنى: انتَهُوا، وأَسْلِمُوا
FA HAL ANTUM MUNTAHUUNA
maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)
A ASLAMTUM
Masuk Islam-lah kamu
Bermakna INTAHUU = berhentilah. Dan ASLIMUU = masuk islam-lah.

5. Nahi (melarang):
والنهيِ، نحوُ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ
A TAKHSYAWNA HUM FALLAAHU AHAQQU AN TAKHSYAW HU
Janganlah kamu takut kepada mereka, maka Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti

6. Tasywiq (memberi rangsangan, surprise)
والتشويقِ، نحوُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
HAL ADULLUKUM ‘ALAA TIJAAROTI TUNJIIKUM MIN ‘ADZAABIN ALIIM
sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih

7. Ta’zhim (meng-agungkan)
والتعظيمِ، نحوُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
MAN DZAL-LADZII YASYFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI
Gerangan siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya]

8. Tahqir (merendahkan):
والتحقيرِ، نحوُ أَهَذَا الذي مَدَحْتَهُ كثيرًا
A HADZA ALLADZI MADAHTA HU HATSIRAAN
Cuma segini kau bilang banyak
DAN SEBAGAINYA disebutkan dalam kitab yg lebih besar.

Tamanni dan Taroji ليت هل لو لعل (laita, hal, law, la’alla)

وأمَّا التمَنِّي: فهوَ طَلَبُ شيءٍ محبوبٍ، لا يُرْجَى حصولُه لكونِه مُستحيلًا أوْ بعيدَ الوقوعِ، كقولِه
Adapun disebut Tamanni adalah: menuntut terjadinya sesuatu yang diidamkan yang tidak diharap keberhasilannya karena mustahil terjadi atau sulit tercapai, contoh mustahil terjadi, dalam sya’ir :

أَلاَ ليتَ الشبابَ يَعودُ يومًا = فأُخْبِرُه بما فَعَلَ الْمَشيبُ
Ketahuilah…. Sekiranya masa muda itu kembali suatu hari, maka akan kuceritakan sesuatu yg diperbuat di masa tuanya (alias kepahitan2 dan penyesalan).
وقولِ الْمُعسِرِ
Contoh perkataan orang bangkrut (tamanni yang sulit tercapai):
(ليتَ لي أَلْفَ دينارٍ)
sekiranya aku mempunyai uang seribu dinar
وإذا كان الأمْرُ متوَقَّعَ الحصولِ فإنَّ تَرُقُّبَه يُسَمَّى تَرَجِّيًا، ويُعبَّرُ عنه بـ (عسى) أو(لعلَّ)، نحوُ
Apabila perkara itu dimungkinkan terjadi, maka penantian keberhasilannya disebut taroji, dan diucapkan dengan kata ASAA atau LA’ALLA contoh:
{لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا}
Barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru
وللتَّمَنِّي أربَعُ أدواتٍ: واحدةٌ أصليَّةٌ، وهيَ (ليتَ)، وثلاثةٌ غيرُ أصليَّةٍ، وهي: }
Tamanni mempunyai empat Adawat (perangkat/lafazh yg menunjukkan tamanni): satu adat sebagai yang asli yaitu: LAITA. Dan tiga adat bukan yg asli yaitu:

1. HAL
(هل)، نحوُ: {فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَ
Contoh: FA HAL LANAA MIN SYUFA’AA FA YASYFA’UU LANAA
maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami

2. LAW
و (لو)، نحوُ: {فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Contoh: FA LAW ANNA LANAA KARROTAN FA NAKUUNA MINAL-MU’MINIIN
maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman

3. LA’ALLA
و(لعلَّ)، نحوُ قولِه: أَسِرْبَ الْقَطَا هلْ منْ يُعِيرُ جَناحَهُ = لَعَلِّي إلى مَنْ قدْ هَوِيْتُ أَطِيرُ
Contoh sya’ir: A SIRBAL-QATHAA HAL MAN YU’IIRU JANAAHA HU # LA’ALLIY HAWIITU ATHIIRU.
Hai.. sekawanan burung! Adakah kiranya diantara kalian yg sudi meminjamkan sayapnya, semoga aku bisa terbang sampai pada seseorang yg sangat aku cintai .

ولاستعمالِ هذه الأدواتِ في التَّمنِّي يُنْصَبُ المضارعُ الواقعُ في جوابِها
Penggunaan adawat ini (tiga adat yg tidak asli) di dalam tamanni yaitu dinashabkannya fi’il mudhari yang jatuh sebagai jawabnya. (demikian juga LA’ALLA menurut ulama bashrah. Sedangkan menurut ulama kufah nashabnya fi’il mudhari’ tsb tidaklah menjadi dalil atas tamanni, karena mereka juga membolehkan nashabnya fi’il mudhari pada jawab taroji).

Kunjungi Juga: Balaghoh (5), NIDA'

Balaghoh (2), KALAM KHABAR


KALAM KHABAR 
كلُّ كلامٍ فهوَ إمَّا خبرٌ أوْ إِنشاءٌ.
Setiap kalam/perkataan yaitu baik ada yang disebut kalam khabar atau kalam insya’.

والخبرُ ما يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه: إنَّهُ صادقٌ فيهِ أوْ كاذِبٌ، كسافرَ محمَّدٌ وعليٌّ مُقِيمٌ
Kalam khabar adalah setiap perkataan yang shah/patut dikatakan kepada orang yg mengatakannya : bahwa dia itu benar atau dia itu bohong. Contoh kalam: SAAFARO MUHAMMADUN “Muhammad telah pergi” dan ‘ALIYYUN MUQIIMUN “‘Ali adalah orang yang menetap”.

والإنشاءُ ما لا يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه ذلكَ، كسافِرْ يا محمَّدُ أَقِمْ يا عليُّ
Sebaliknya kalam insya’ adalah setiap perkataan yang tidak patut dikatakan kepada yg mengatakannya: bahwa dia itu benar atau bohong. Contoh kalam : SAAFIR YAA MUHAMMADU “pergilah wahai Muhammad..!” dan AQIM YAA ‘ALIY “menetaplah wahai Ali..!”.

والمرادُ بصِدْقِ الخبَرِ مطابقتُه للواقعِ، وبكذِبِه عدمُ مطابقتِه له
Yang dimaksud dengan benarnya khabar adalah kecocokannya dengan kenyataan, sebaliknya kebohongan khabar adalah tidak adanya kecocokan dengan kenyataan.

فجملةُ عليٌّ مقيمٌ إنْ كانت النِّسبةُ المفهومةُ منها مطابِقةً لما في الخارجِ فصِدْقٌ، وإلاَّ فكَذِبٌ
Maka kalam ‘ALIYYUN MUQIIMUN jika penisbatan yang difahami dari perkataan tsb mencocoki dengan keadaan maka dikatakan shidq/benar, dan jika tidak maka dikatakan kadzib/bohong.

ولكلِّ جملةٍ رُكنانِ: محكومٌ عليه، ومحكومٌ به.
ويُسمَّى الأوَّلُ مسْنَدًا إليه، كالفاعلِ ونائبِه، والمبتدأِ الذي لهُ خَبَرٌ. ويُسمَّى الثاني مُسْنَدًا، كالفعْلِ والمبتدأِ المكتفي بمرفوعِه.
Tiap kalam terdapat dua rukun/unsur :
1. Mahkum ‘Alaih.
2. Mahkum Bih.
 Rukun yang pertama dinamakan Musnad Ilaih, seperti Faa’il, Naibul Faa’il, Mubtada yg mempunyai khobar. Rukun yg kedua dinamakan Musnad, seperti Fi’il, Mubtada yg cukup dengan faa’ilnya (masaddal khobar)

Pembahasan Kalam Khabar (Khobariyah)
الكلامُ على الخبرِ
Pembahasan Kalam Khobar
الخبرُ إمَّا أنْ يكونَ جملةً فِعْلِيَّةً أو اسْمِيَّةً
Kalam khobar itu baik berupa jumlah fi’liyah (fi’il+faa’il) atau jumlah ismiyah (mubtada’+khabar)

فالأُولى موضوعةٌ لإفادةِ الحدوثِ في زمنٍ مخصوصٍ، معَ الاختصارِ
وقدْ تُفيدُ الاستمرارَ التَّجدُّديَّ بالقرائنِ، إذا كان الفعْلُ مضارعًا، كقولِ طريفٍ
Kalam khobar jumlah Fi’liyah:
Diposisikan sebagai pemberi faidah kejadian pada masa tertentu beserta ringkas kalimatnya (tanpa adatuz-zaman).
Terkadang berfaidah “istimrar at-tajaddudi” (masa terus berlangsung berkali-kali) dengan adanya qorinah (hubungan), bilamana fi’ilnya berupa fi’il mudhari’. contoh syair oleh Tharif:

أَوَكلَّما وَرَدَتْ عُكَاظَ قبيلةٌ = بعثُوا إليَّ عَرِيفَهُمْ يتوَسَّمُ
Apakah telah datang, qaum yg setiap kali datang ke pasar ‘Ukazh mengutus kepercayaannya kepadaku sembari memberi tanda.

والثانيةُ موضوعةٌ لمجرَّدِ ثبوتِ المسنَدِ للمسنَدِ إليه، نحوُ: (الشمسُ مُضِيئَةٌ). وقدْ تُفيدُ الاستمرارَ بالقرائنِ إذا لمْ يكُنْ في خبرِها فِعْلٌ، نحوُ: (العلْمُ نافعٌ
Kalam khobar jumlah ismiyah:
Diposisikan hanya sendirinya menetapkan almusnad (hukum) kepada almusnad ilaih (yg diberi hukum). Contoh الشمسُ مُضِيئَةٌ ASYAMSU MUDHIIATUN matahari adalah yang bersinar terang benderang. Terkadang berfungsi “Istimrar” dengan adanya qorinah, bilamana khobarnya bukan berupa fi’il. Contoh AL-ILMU NAAFI’UN “ilmu itu bermanfaat”

والأصْلُ في الخبَرِ أنْ يُلْقَى لإفادةِ المخاطَبِ الحكْمَ الذي تَضمَّنَتْهُ الجملةُ، كما في قولِنا: (حَضَرَ الأميرُ)، أوْ لإفادةِ أنَّ المتكلِّمَ عالِمٌ به، نحوُ: (أنتَ حَضَرْتَ أمسِ). ويُسَمَّى الحكْمُ فائدةَ الخبَرِ، وكونُ المتكلِّمِ عالِمًا بهِ لازِمَ الفائدةِ.
Asal khabar digunakan untuk menfaidahkan suatu hukum -yg mencakup berbentuk jumlah- kepada mukhatab. Contoh kita berkata: HADHARA AL-AMIR “penguasa itu telah hadir”.
Atau menfaidahkan bahwa mutakallim telah tahu. Contoh ANTA HADHARAT AMSI “kamu telah hadir kemarin”.

Hukum yg pertama dinamakan faidahnya khobar (fa’idatul khobar). Sedangkan hukum yang kedua bahwa mutakallim mengetahuinya, dinamakan tetapnya faidah (lazimul-faa’idah)

Beberapa Tujuan Khobar:
وقدْ يُلْقَى الخبَرُ لأغراضٍ أُخرى
Dan terkadang kalam khobar itu disampaikan untuk tujuan-tujuan lain. (selain dua tujuan khobar yg telah disebutkan pada pelajaran lalu: FAAIDATUL KHOBAR dan LAAZIMUL KHOBAR)

كالاسترحامِ في قولِ موسى عليهِ السلامُ رَبِّي إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
HARAP BELAS KASIH, contoh dalam perkataan nabi musa as : ROBBI, INNIY LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHOIRIN FAQIIRUN ” Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

وإظهارِ الضَّعْفِ في قولِ زكريَّا عليهِ السلامُ رَبِّي إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي
MENAMPAKKAN KELEMAHAN DIRI, contoh perkataan Nabi Zakaria as. “ROBBIY INNI WAHANAL-’AZHMU MINNIY” Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah.

وإظهارِ التحَسُّرِ في قولِ امرأةِ عِمرانَ رَبِّي إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَم بِمَا وَضَعَتْ
MENAMPAKKAN PENYESALAN, contoh perkataan Istri Imran. “ROBBIY INNI WADHO’TU HAA UNTSA WALLAAHI A’LAMU BIMAA WADHA’AT” “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu

وإظهارِ الفرَحِ بمقْبِلٍ، والشماتَةِ بمُدْبِرٍ في قولِكَ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَق البَاطِلُ
MENAMPAKKAN KEGEMBIRAAN MASA DATANG DAN MENCIBIR MASA LALU, contoh perkataanmu. “JAA-AL-HAQQ WAZAHAQOL-BAATHIL” “Yang haq telah datang dan yang batil telah sirna.

وإظهارِ السرورِ في قولِكَ أَخَذْتُ جَائِزَةَ التَّقَدُّمِ لِمَنْ يَعلمُ ذلكَ
MENAMPAKKAN KEGEMBIRAAN, contoh perkataanmu. “AKHODZTU JAAIZATAL-TAQODDUM” aku memperoleh hadiah kemenangan. Bila dikatakan pada orang yg telah mengetahui hal tsb.

والتوبيخِ في قولِكَ للعاثِرِ الشمسُ طالعةٌ
TEGURAN/CEMOHAN, contoh perkataanmu pada orang yg tergelincir. “ASY-SYAMSU THOLI’ATUN” matahari terbit koq.

MACAM-MACAM PENYAMPAIAN KHOBAR


حيثُ كانَ قصْدُ المخبِرِ بخبرِه إفادةَ المخاطَبِ يَنبغي أنْ يَقْتَصِرَ من الكلامِ على قَدْرِ الحاجةِ؛ حَذَرًا من اللَّغْوِ
dari segi maksud sang mukhbir dalam menyampaikan khobarnya untuk memberi faidah kepada mukhotob. Yaitu seyogyanya harus meringkas perkataan menurut keperluan saja, untuk menjaga dari kesalahan atau keluputan.

فإنْ كانَ المخاطَبُ خاليَ الذِّهْنِ من الحكْمِ أُلْقِيَ إليه الخبَرُ مُجرَّدًا عن التأكيدِ، نحوُ: أخوكَ قادمٌ
Jika keadaan pendengar kosong dari pemikiran atau pengetahuan tentang suatu hukum, maka sebaiknya khobar disampaikan padanya apa adanya tanpa pengokohan atau taukid. Contoh AKHUUKA QAADIMUN “saudaramu datang”.

وإنَ كانَ متردِّدًا فيه، طالبًا لمعرفتِه، حَسُنَ توكيدُه، نحوُ: (إنَّ أخاكَ قادمٌ). وإنْ كانَ منكِرًا وَجَبَ توكيدُه بمؤكِّدٍ أوْ مؤكِّدَيْنِ أوْ أكثرَ، حسَبَ درجةِ الإنكارِ، نحوُ: (إنَّ أخاكَ قادمٌ)، أوْ (إنَّهُ لَقادِمٌ)، أوْ (واللَّهِ إنَّهُ لَقادِمٌ).
Jika keadaannya ragu-ragu dalam suatu hukum seraya menuntut mengetahui kebenarannya, maka yang terbaik mengokohkannya/memberi taukid. Contoh: INNA AKHOOKA QOODIMUN “sesungguhnya saudaramu datang”. Dan jika keadaan pendengar terasa ingkar, maka wajib memberi taukid dengan satu taukid, dua atau lebih, tergantung derajat keingkarannya.
Contoh:
1. INNA AKHOOKA QOODIMUN (satu taukid “INNA”) atau
2. INNAHU LA QOODIMUN (dua taukid “INNA” + “LA”) atau
3. WALLAAHI INNAHU LA QOODIMUN (tiga taukid “QOSAM” + “INNA” + “LA” )
فالخبَرُ بالنِّسبةِ لِخُلوِّه من التوكيدِ واشتمالِه عليهِ ثلاثةُ أضْرُبٍ كما رأيتَ. ويُسَمَّى الضَّرْبُ الأوَّلُ ابتدائيًّا، والثاني طَلَبيًّا، والثالثُ إِنْكاريًّا.
Maka khobar bin-nisbah (penisbatan suatu hukum) yang kosong dari taukid maupun yang mencakup taukid, yaitu ada tiga macam pembagian dari apa yang telah kamu ketahui di depan. Pembagian pertama (tanpa taukid) disebut khobar IBTIDAIY (karena mukhotob sebagai orang pertama tanpa didahului penuntuan atau pengingkaran). Pembagian kedua (sebaiknya diberi taukid atas keraguan atau penuntuan mukhotob) disebut khobar THOLABIY. Dan pembagian yang ketiga (wajib dg satu taukid atau lebih) disebut khobar INKARIY (ada kemungkinan pengingkaran pada diri mukhotob atau pada khobar itu sendiri)

ويكونُ التوكيدُ بـ (إنَّ)، و(أنَّ)، ولامِ الابتداءِ، وأحرُفِ التنبيهِ، والقسَمِ، ونُونَي التوكيدِ، والحروفِ الزائدةِ، والتكريرِ، و(قدْ)، و(أمَّا) الشرطيَّةِ.
Maka berhasil taukid yaitu dengan INNA maupun ANNA, LAM ibtida’, huruf tanbih (semisal AMAA, ALAA), Qosam, Nun Taukid, Huruf Zaidah, Takrir/pengulangan (contoh firman Allah: WAJA’ALNAA NAUMAKUM SUBAATAA, WAJA’ALNAA-LLAILA LIBAASAA, WAJA’ALNAA-NNAHAARO MA’AASYAA), Qod, AMMA Assyarthiyah.
(demikian termasuk diantara adat taukid jumlah ismiyah, yaitu pentaukidan khitob dengan jumlah fi’liyah diantaranya taqdiimul-faa’il al-ma’nawiy (mengedepankan faa’il maknanya) contoh: AL-AMIIR HADHORO, dengan INNAMA contoh INNAMA ZAIDUN QOOIMUN, dengan DHAMIR FASHL contoh: ZAIDUN HUWA QOO

Kunjungi Juga: Balaghoh (3) FASHOHAH

Balaghoh (3) FASHOHAH


PENGERTIAN FASHAHAH

الفصاحةُ في اللغةِ تُنْبِئُ عن البيانِ والظهورِ. يقالُ: أفْصَحَ الصَّبيُّ في مَنْطِقِه، إذا بانَ وظَهَرَ كلامُه
Fashahah menurut bahasa adalah: Menampakkan yg jelas dan terang. Sebagaimana dikatakan: anak itu telah FASIH ucapannya, bilamana perkataannya sudah terang dan jelas.

وتَقَعُ في الاصطلاحِ وصْفًا للكلمةِ والكلامِ والمتكلِّمِ
Terjadi menurut istilah balaghah adalah: sifat bagi kalimah (kata), kalam (kalimat) dan mutakallim (pembicara).

1.Tanafur Huruf
فتَنافُرُ الحروفِ: وصْفٌ في الكلمةِ يُوجِبُ ثِقَلَها على اللسانِ، وعُسْرَ النُّطْقِ بها، نحوُ:(الظَّشِّ) للموضِعِ الْخَشِنِ، و(الْهُعْخُعِ) لنباتٍ تَرعاهُ الإبلُ، و(النُّقَاخِ) للماءِ العذْبِ الصافِي، و(المُسْتَشْزَرِ) للمفتولِ.
Tanaafur Huruf adalah : sifat bagi kalimah yang memastikan berat di lidah dan sulit mengucapankannya. contoh AZH-ZHASYSYAH sebutan untuk permukaan yg kasar, HU’KHU’ sebutan untuk tumbuh-tumbuhan makanan unta, NUQQAAKH sebutan untuk air tawan yang jernih, MUSTASYZAR sebutan untuk sesuatu yang dipintal

2.Mukhalafah Qias
ومخالَفةُ القياسِ: كونُ الكلمةِ غيرَ جاريةٍ على القانونِ الصَّرْفيِّ، كجَمْعِ (بُوقٍ) على (بُوقاتٍ) في قولِ المتنبِّي
Mukhalafah Qias adalah : keberadaan kalimah yang tidak mengikuti aturan ilmu shorof. contoh jamaknya lafazh BUUQIN menjadi BUUQAATIN didalam contoh perkataan seorang penyair:

فإنْ يكُ بعضُ الناسِ سيفًا لدولةٍ ¤ ففي الناسِ بُوقاتٌ لها وطبولُ
fa in yaku ba’dhun-naasi saifan li daulatin ¤ fa fin-naasi BUQAATIN wa thobuulu
jika sebagian orang itu menjadi pedang untuk negara ¤ maka diantara mereka harus ada terompet dan genderang.
إذ القياسُ في جَمْعِه للقِلَّةِ(أبواقٌ). وكـ (مَودَدَةٍ) في قولِه
karena menurut qias (ilmu shorof), bentuk jamak qillah adalah “ABWAAQUN”. contoh yang lain “MAUDADAH” di dalam perkataan seorang penyair:
إنَّ بَنِيَّ لَلِئَامٌ زَهَدَهْ ¤ ما ليَ في صدورِهم مِنْ مَوْدَدَهْ
inna baniyya lali-aamun zahadah ¤ maa liya fii shuduurihim min MAUDADAH.
benar-benar keturunanku itu orang yang tidak baik dan tiada berpenganggapan ¤ di hati mereka tidak ada rasa kasih-sayang untukku.
والقياسُ: (موَدَّةٌ) بالإدغامِ
menurut qias (kaidah ilmu shorof) adalah MAWADDAH dengan di-idgham.

3.Gharabah


والغرابةُ: كونُ الكلمةِ غيرَ ظاهرةِ المعنى، نحوُ: (تَكَأْكَأَ) بمعنى: اجتمَعَ، و(افْرَنْقَعَ) بمعنى: انصرَفَ، و(اطْلخَمَّ) بمعنى: اشتدَّ
Gharabah adalah : Keberadaan kalimah yang tidak jelas maknanya. Misal TAKA’KA-A dengan arti IJTAMA’A (berkumpul), IFRANQA’A dengan arti INSHOROFA (bubar/berpaling), ITHLAKHOMMA dengan arti ISYTADDA (kuat perkasa/gagah).
Contoh perkataan ‘Isa bin Umar an-nahwiy ketika jatuh dari Himarnya, dan orang-orang mengerumuninya:
مَالَكُمْ تَكَأْكَأْتُمْ عَلَيَّ كَتَكَأْكُئِكُمْ عَلَى ذِي جِنَّةٍ، افْرَنْقِعُوا عَنِّي
“Maa lakum TAKA’KA’TUM ‘alayya, kaTAKA’KUIKUM ‘alaa dzii jinnah? IFRANQI’UU ‘anniy…!”
“ada apa kalian berkumpul mengerumuni saya, sebagaimana kalian berkumpul mengerumuni orang gila? Bubar dariku…!”

4.Tanaafur Kalimaat


فالتنافُرُ: وصفٌ في الكلامِ يُوجِبُ ثِقَلَه على اللسانِ، وعُسْرَ النطْقِ بهِ، نحوُ
Tanaafur (kalimaat mujtami’atan) adalah : sifat di dalam kalam yang memastikan berat di lidah dan sulit mengucapkannya. contoh:
في رَفْعِ عرْشِ الشَّرْعِ مثلُكَ يَشْرَعُ = وليسَ قُرْبَ قَبْرِ حَرْبٍ قَبْرُ
Fii ROF’I ‘ARSYIs-SYAR’I mitsluka YUSYRO’ = wa laisa QURBA QOBRI HARBI QOBRU.
Orang sepertimu adalah dia yang bertugas mengangkat tiang layar.
Di dekat kuburan Harb itu, tidak ada kuburan lain.
كريمٌ متى أمدَحْهُ أمدحْهُ والوَرَى = معي وإذا ما لُمْتُهُ لُمْتُهُ وَحْدِي
Kariimun mataa AMDAH-HU AMDAH-HU wal waroo # ma’i wa idzaa LUMTUHU LUMTUHU wahdiy.
Dia itu mulia, kapan saja aku memujinya, orang lain juga ikut memujinya. apabila aku mencelanya, aku sendirian yang melakukan itu sementara orang lain tidak
Keterangan:
Tanaafur kalimaat mujtami’atan = kumpulan kata minimal dua kata atau lebih yang saling memberatkan antara yang satu dengan yang lainnya dalam pengucapan dan lidah.
Fii ROF’I ‘ARSYIs-SYAR’I mitsluka YUSYRO’ = contoh kalam ini tidak fasih karena mengandung tanaafur kalimaat mujtami’atan, dengan mengulang-ulang tiga huruf (RA, ‘AIN, SYIN). RA’ dan ‘AIN pada empat kata (ROF’I-’ARSYI-SYAR’-YUSYRO’) dan SYIN pada tiga kata (‘ARSYI-SYAR’-YUSYRO’) demikian juga untuk contoh lainnya.

5. Dha’fut-ta’lif ضعف التأليف

وضَعْفُ التأليفِ – كونُ الكلامِ غيرَ جارٍ على القانونِ النحويِّ المشهورِ، كالإضمارِ قبلَ الذكْرِ لَفْظًا ورُتْبَةً في قولِ
Dho’fut-ta’liif : adanya kalam yg tidak sesuai dengan kaidah nahwu yang masyhur. Seperti menyebut dhomir sebelum menyebut lafazhnya atau tingkatannya.
Contoh syahid syair dalam bahar basith :
جَزَى بنُوهُ أَبَا الغِيلانِ عنْ كِبَرٍ = وحُسْنِ فِعْلٍ كما يُجزَى سِنِمَّارُ
JAZAA BANUUHU ABAL-GHILAANI ‘an kibarin = wa husni fi’lin kamaa yujzaa sinimmaaru.
Putranya (bani abu ghilan) membalas kebaikan Abu Gilan dimasa tuanya, dengan balasan sebagaimana dibalasnya orang yg bernama Sinimmar.
dho’futta’lif pada syair diatas ada pada kalimat ” JAZAA BANUUHU ABAL-GHILAANI” menyebut dhamir pada faa’il yang kembali pada maf’ul yg ada dibelakangnya “lafzhan wa rutbatan”. Demikian ini tidak sesuai dengan kaidah pakem nahwu, sebagimana dalam alfiyah bab faa’il oleh ibnu malik:
وشاع نحو خاف ربه عمر … وشذ نحو زان نوره الشجر
WA SYAA’A NAHWU KHOOFA ROBBAHU ‘UMAR * WASYADDA NAHWU ZAANA NAURUHUS-SYAJAR

6.Ta’kid التعقيد
(Ta’kid lafzhi dan Ta’kid ma’nawi)

والتعقيدُ: أنْ يكونَ الكلامُ خَفِيَّ الدلالةِ على المعنى المرادِ
Adanya kalam (kalimat) samar dalam penunjukan makna yang dimaksud.
والخفاءُ إمَّا منْ جهةِ اللفظِ، بسببِ تقديمٍ أوْ تأخيرٍ أوْ فَصْلٍ، ويُسمَّى تعقيدًا لفظِيًّا، كقولِ المتنبِّي
Kesamaran itu baik dari segi lafazhnya, disebabkan takdim (mengedepankan yg seharusnya dibelakang ), ta’khir (mengakhirkan yg seharusnya didepan), atau fashl (pemisahan). Maka dinamakan ta’kid lafzhiy. Seperti contoh perkataan penyair:
جَفَخَتْ وهم لا يَجْفَخُونَ بها بهم = شِيَمٌ على الحسَبِ الأغَرِّ دلائلُ
JAFAKHAT WA HUM LAA YAJFAKHUUNA BIHAA BIHIM = SYIYAMUN ‘ALAL-HASABIL-AGHARRI DALAAILU.
فإنَّ تقديرَه: جَفَخَتْ بهم شِيَمٌ دلائلُ على الحسَبِ الأغرِّ، وهم لا يَجفخونَ بها
Karena sesungguhnnya takdirannya adalah:
JAFAKHAT BIHIM SYIYAMUN DALAAILU ‘ALAL-HASABIL-AGHARRI WA HUM LAA YAJFAKHUUNA BIHAA.
Adat kebiasaan saling menasehati atas leluhurnya yg mulia, membanggakan mereka. Tapi mereka tidak banggakan diri dengan kebiasaan itu.

KETERANGAN:
pada syair diatas terdapat FASHL/memisah antar fi’il (JAFAKHAT) dan muta’allaqnya (BIHIM) dengan kalimat sempurna yg mempunyai makna tersediri (WA HUM LAA YAJFAKHUUNA BIHAA).
Kemudian terdapat TA’KHIR mengakhirkan lafazh (DALAAILU) dari muta’allaqnya (‘ALAL-HASBIL-AGHARRI) sekaligus terjadi FASHL antara maushuf (SYIYAMUN) dan sifatnya (DALAAILU) dengan muta’alliqnya sifat yang seharusnya ada dibelakang (‘ALAL-HASBIL-AGHARRI).

وإمَّا منْ جهةِ المعنى بسببِ استعمالِ مَجازاتٍ وكِناياتٍ، لا يُفْهَمُ المرادُ بها، ويُسَمَّى تَعقيدًا معنويًّا، نحوُ قولِكَ: (نَشَرَ الْمَلِكُ أَلْسِنَتَه في المدينةِ)، مُريدًا جواسيسَه، والصوابُ:(نَشَرَ عيونَه). وقولِه:
Adapun kesamaran dari segi makna, disebabkan penggunaan majaz atau kinayah yang tidak difahami maksudnya, maka dinamakan ta’kid ma’nawiy. Contoh perkataanmu : ” raja itu menyebarkan ALSINATAHU/LIDAH-LIDAHNYA di kota itu” dengan maksud penyelidik-penyelidiknya. Maka yang benar ” menyebarkan ‘UYUUNAHU/MATA-MATANYA”. Dan sebagaimana dalam syair (bahar thowil):
سَأَطْلُبُ بُعْدَ الدَّارِ عَنْكُمْ لِتَقْرُبُوا * وَتَسْكُبُ عَيْنَايَ الدُّمُوعَ لِتَجْمُدا
SA ATHLUBU BU’DAD-DAARI ‘ANKUM LI TAQRUBUU = WA TASKUBU ‘AINAAYAD-DUMUU’U LI TAJMUDAA.
Aku akan mencari rumah yang jauh dari kalian agar kalian dekat di hati. Dan kedua mataku akan menumpahkan habis air matanya agar MEMBEKU (merasakan bahagia karena telah dekatnya hati)
حيث كَنَّى بالجمودِ عن السرورِ، معَ أنَّ الجمودَ يُكَنَّى بهِ عن البُخْلِ وقتَ البكاءِ
dimana dimaksudkan penggunaan kinayah dengan kata “JUMUD/BEKU” untuk mengungkapkan rasa bahagia, padahal sesungguhnya kata “JUMUD/BEKU” adalah kinayah untuk sulitnya air mata mengalir di saat sedang menangis.

7.Fashohah Mutakallim (Pembicara Fasih)

وفصاحةُ المتكلِّمِ: مَلَكةٌ يُقتَدَرُ بها على التعبيرِ عن المقصودِ بكلامٍ فصيحٍ، في أيْ غرَضٍ كانَ
Fashohan Mutakallim (pembicara) : adalah malakah (bakat sang pembicara) yang mampu menuangkan maksud dengan kalimat fashih, dalam situasi sasaran yang bagaimana pun.

Kunjungi Juga: Balaghoh (4), ISTIFHAM

Etika Saat Membaca Al Qur'an (1)




Membaca Al-Quran hukumnya adalah sunnah, dan bagi seorang muslim yang membacanya dengan niat yang ikhlas dan dengan tujuan yang baik maka akan bernilai pahala disisi Allah. Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitaabullah (Al-Quran) maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya.” (HR.Tirmidzi)
Dalam membaca Al-Quran ada adab adab yang harus kita perhatikan. Berikut adab adab yang harus diperhatikan dalam membaca Al-Quran:
Disunnahkan bagi Pembaca Al-Quran:

1. Hendaknya membaca Al-Quran dalam keadaan suci

Sebelum membaca Al-Quran, disunnah untuk mengambil wudhu terlebih dahulu, karena ini adalah kondisi terbaik dalam membaca Alquran, walaupun diperbolehkan membacanya dalam keadaan tidak suci.

2. Hendaknya membacanya di tempat yang bersih dan suci

Untuk menjaga keagungan Al-Quran maka tidak dianjurkan untuk membaca Al-Quran di tempat yang kotor seperti di tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan kotoran, dan lain sebagainya. Dan diharamkan membaca Al-Quran di kamar mandi.

3. Membacanya dengan khusyuk, tenang, dan khidmat

Dianjurkan untuk membaca Al-Quran dengan tenang dan tidak terburu-buru, dan juga dianjurkan untuk membaca Al-Quran dengan khusyuk dan khidmat.

Baca Juga: Sejarah Al Qur'an Al Karim

4. Bersiwak sebelum Membaca Alqur'an

Seperti halnya disunnahkan bersiwak sebelum sholat, disunnahkan pula bersiwak sebelum membaca Alqur'an.

5. Membaca Ta’awudz (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم) ketika memulai membacanya

Ketika memulai membaca Alquran dianjuran untuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Disebutkan dalam Alquran: ”Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Alquran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS.An-Nahl:98)
Referensi: Kitab Mabaahits Fii Ulumil Quran, Manna’ Alqoththon. (Manhajuna.com)

DAKWAH KEPADA KALIMAT SYAHADAT


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.” (QS Yusuf [12]: 108)
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman beliau bersabda kepadanya:
إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب
“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah” -, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan kitab At-Tauhid oleh: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr
Penerjemah: Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A. 
www.radiorodja.com

Tentang Admin

Foto saya
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia